Lepasnya Papua Tinggal soal Waktu


MAJALAHWEKO, – Kita semua sedang disibukan dan terlena oleh/menghadapi Pilpres yg memuakan itu. Sungguh. Sementara saudara saudara kita di Papua, kini sedang pesta pora uforia merayakan telah diterimanya document referendum merdeka dari Indonesia oleh PBB. Dan beberapa parliament di Eropa juga sedang sengit membahas dukungannya.

Apa yg akan terjadi? Saya menduga perpisahan dg wilayah Papua, hanya menunggu soal waktu saja. It’s just a matter of time. Mengapa? Mari kita analisa.

Sesungguhnya Indonesia telah gagal membangun wilayah Papua dan masyarakatnya. Dari sejak jaman Bung Karno sampai sekarang, pendekatan pembangunan Papua adalah pendekatan keamanan (bukan kesejahateraan sosial). Jadi Polisi dan Tentara yg dominan.

Buktinya tercatat sudah 400 orang lebih, mnrt laporan, penduduk lokal dibunuh oleh tentara/polisi. Ribuan orang disiksa dan diperkosa. Bahkan dipenjarakan dg sewenang wenang. Tanpa proses hukum.

Pada sisil lain hasil Hutan, Tambang dan kekayaannya banyak diangkut dan dinikmati oleh Jakarta. Kerusakan lingkungan dan penggundulan Hutan merajalela. Persoalan ini, telah lama menjadi hight light topik conflict Jakarta Papua. Ketidak adilan!!!

Bagaimana sikap Jakarta soal referendum? Wapres JK sdh bicara. Menhankam sudah memberi ancaman “angkat senjata”. Bagaimana dg PBB dan negara negara di Dunia? Merespon referendum tersebut.

PBB, Hukum International, hanya akan mendengar isi hati dari penduduk lokal. Indigenous people. Ini persis seperti Timor Timur lepas dari Indonesia. Hasil referendum rakyat Tim Tim ingin merdeka dari Indonesia yg menjadi pertimbangan dasarnya.

Kasus lain, soal lepasnya dua pulau milik Indonesia ke wilayah Malaysia. Hakim international memutuskan kedua pulau itu, menjadi hak milik Malaysia. Alasannya karena penduduk Malaysia lebih dahulu telah menempati dikedua pulau tersebut.  Sipadan dan Ligitan, pulau Indonesia yang tak ‘Indonesia’

Bagaimana sikap Indonesia? Sang Jenderal Jenderal yg gagah-gagah itu, kumisnya turun kebawah. Diam membisu seribu bahasa. Senjatanya, tidak meletus. Bomnya tdk meledak. Kapal terbangnya grounded. Dan lepaslah kedua pulau itu.

Kembali ke soal Papua. Indonesia punya tawaran apa? Setelah referendumbdigelar. Bila ingin Papua tetap beras di NKRI. Kalau bargainingnya seharga dg keinginan merdeka, kemungkinan bisa terus dg Indonesia. Tapi mungkinkah pemerintah Jakarta jadi tamu di Papua? Sekali lagi, menyelesaikan Papua bukan dg senjata. Hasil pelatihan LIPI dan rekomendasinta  tidal pernah dilirik oleh pemerintah.

Pengalaman pada kedua kasus diatas, sesungguhnya kita kalah laga berdiplomasi. Bahkan diplomat2 Indonesia tidak segigih pejuang2 diplomasi individual separatist Papua saat ini. Saya pesimis dg kharismatk aura kepemimpin Jokowi dikancah international saat ini, apalagi kemampuan menlu kita.

Saya pernah bertemu dg tokoh tokoh Papua, kalau perjuangan mereka sudah sampai pada puncak kesuksesannya. Dengan sungguh sangat sedih, dan dengan sangat berat hati, bila satu saat hrs menyampaikan, sayonara Papua sayonara.

Sumber: https://www.kompasiana.com/alisyarief9298/5c5980d843322f551d2aca57/lepasnya-papua-tinggal-soal-waktu

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Tagged with: , , , , ,
Ditulis dalam Artikel dan Opini, West Papua

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: