TNI-Polri Membagi Beras Difoto dan Dipromosikan, sementara Diculiknya Aristoteles Kasoka dan Pembunuhan 4 Siswa di Paniai Diabaikan


Oleh Dr. Socratez S.Yoman, Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua

Photo: Dr. Socratez S.Yoman  (The President of the Fellowship of Baptist Churches of West Papua)

  1. Pendahuluan

Darah, air mata, tulang-belulang yang berserakkan di seluruh Tanah Papua dan penderitaan yang dialami rakyat West Papua selama 57 tahun sejak Trikora 1961-2018, tidak bisa digadaikan dengan membagi-bagi beras, supermi dan foto bersama dengan rakyat West Papua. Orang yang sakit perut tidak bisa dikasih obat malaria. Itu seorang dokter yang tidak profesional dan  tidak membantu untuk proses  penyembuhan orang yang sakit perut. 

Jadi, yang dilakukannTNI/Polri di West Papua belakangan ini sama seperti seorang dokter yang memberikan obat yang salah kepada pasien. Akhirnya pasien itu sakit tambah berat atau sakit lebih serius karena cara penanganan yang jauh dari yang seharusnya.

  1. Propaganda Murahan TNI/Polri di West Papua

Dalam usaha mencuci tangan dan melarikan diri dari kekerasan dan kejahatan TNI-Polri yang merupakan pelanggaran berat HAM selama 57 tahun sejak 1961-2018, ada usaha-usaha propaganda secara sistematis, terstruktur, dan masif yang dilakukan oleh TNI-Polri. Contoh nyata sudah disebutkan tadi, yaitu membagi-bagi beras, kunjungi ke kandang kelinci rakyat, kandang babi rakyat, ke kebun rakyat, ke honai rakyat, difoto dan foto-foto itu  dipromosikan di media massa mengaku  diri sebagai misi kemanusiaan.

Misalnya, kasus di Nduga pada 1-2 Desember 2018, terbunuhnya 16 orang sipil yang diduga dilakukan oleh TPN-OPM, maka peristiwa ini benar-benar digunakan oleh pemerintah & TNI-Polri secara masif untuk menghapus, mengalihkan & menghilangkan seluruh kekejaman dan kejahatan Negara yang dilakukukan TNI-Polri selama 57 tahun sebagai kejahatan kemanusiaan & pelanggaran berat HAM yang telah menjadi agenda komunitas internasional. Kasus Nduga telah menjadi alat propaganda pemerintah & TNI-Polri di tingkat nasional & internasional.

Terbukti dengan pernyataan Wakil Presiden Republik Indonesia, Muhammad Jusuf Kalla pada Sidang Umum PBB pada September 2018,  berbohong dihadapan pra pemimpin terhormat dan forum terhormat di PBB. Bahwa di West Papua tidak ada pelanggaran berat HAM. 

Muhammad Jusuf Kalla juga  dalam memberikan reaksi kasus Nduga, 1-2 Desember 2018, menyatakan: “Kasus Nduga adalah pelanggaran berat HAM. Orang Papua melakukan pelanggaran HAM.” 

  1. Kasus diculiknya Aristoteles Masoka  2001 dan tertembak 4 siswa di Paniai 2014 HARUS diselesaikan

Kasus dihilangkannya Aristoteles Masoka  pada 10 November 2001  dan ditembaknya 4 siswa di Paniai pada 8 Desember 2015 dan tertembaknya Mako Tabuni, Yustinus Murip, Kelly Kwalik, Pdt Elisa Tabuni, Pdt. Omanggen Wenda, Jonny Karunggu, Orry Doronggi, Yawan Wayeni, dan masih ratusan bahkan ribuan rakyat yang ditembak mati oleh TNI-Polri yang harus dipertanggungjawabkan oleh pemerintah Indonesia dan TNI-Polri.

TNI-Polri telah membunuh puluhan,  ratusan dan ribuan  Penduduk Asli Papua selama 57 tahun sejak 1961-2018 sebagian kecil sudah dimunculkan dalam daftar ini. Di tangan pemerintah dan aparat keamanan TNI-Polri berlumurahan darah, air mata dan penderitaan ratusan ribu nyawa dibantai TNI-Polri. 

Lebih khusus penembak 4 siswa di Paniai pada 8 Desember 2014 HARUS ditangkap dan diproses hukum. Karena Presiden Indonesia, Ir. Joko Widodo sudah janji untuk menyelesaikannya.

Sekarang Pemerintah Indonesia, TNI-Polri memakai kasus Nduga, korbannya 16 orang sebagai alat propaganda untuk mengkaunter di forum-forum internasional, bahwa Orang Asli Papua pelaku pelanggaran berat HAM karena membunuh 16 orang Indonesia.  Itu sudah pasti. Tetapi sejauh mana pemerintah dan TNI-Polri menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran berat HAM selama 57 tahun di Papua? 

Dugaan saya, di Nduga  pada  Desember 2018 dalam Operasi Militer, PASTI saja ada pelanggaran berat HAM yang dilakukan TNI. Itu menambah daftar hitam bagi pemerintah dan TNI.

IWP, 24 Desember 2018.

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Tagged with: , , , , ,
Ditulis dalam Artikel dan Opini, Suara Baptis

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: