Refleksi Natal 24-25 Desember 2018


Rakyat West Papua Sesungguhnya tidak  Butuh & tidak perlu Perlindungan dari TNI-Polri karena sebelum Indonesia Menjajah Papua, Bangsa ini  pernah Hidup Damai Bersama Tuhan Allah di atas Tanah Leluhur Mereka

Oleh Dr. Socratez S.Yoman, Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua

Dr.Sofyan Yoman di tenggah Umat Baptis Papua

  1. Pendahuluan

Pada pendahuluan refleksi Natal ini, penulis mengutip Firman Tuhan yang  disampaikan rasul Paulus kepada Jemaat Galatia.  “…adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. …Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta” (Galatia 1:10; 20).

Dalam setiap Natal 25 Desember, khotbah, refleksi & renungan pesan Natal biasanya dengan topik yang indah-indah, itu-itu saja tanpa membuat orang merasa terganggu & mereka harus berpikir melalui pesan Natal Damai yang tegas, korektif & edukatif. Pesan Natal bukan menghibur hati & menyukakan hati manusia yang datang ke tempat ibadah untuk perayaan Natal hanya sebagai rutinitas & serimonial. 

Karena itu rasul Paulus dengan pendirian kokoh dan ia mengatakan Injil adalah kekuatan Allah,  Injil menyatakan kebenaran Allah dan Injil itu menyelamatkan manusia. Apa artinya ini?  Dalam pesan Natal itu berbicara tentang perubahan hidup, kelakuan, pikiran dan hati manusia. 

Pesan Natal harus mengubah hidup manusia supaya manusia berdamai dengan Allah dan berdamai dengan manusia supaya di dunia ini ada kedamaian dan ada harmoni, ada keadilan, ada kasih yang nyata. 

Rasul Paulus berkata hidup kita bukan untuk membuat orang suka dengan kami karena setiap pesan Natal tidak pernah koreksi kejahatan, kekejaman, kebohongan dan kekerasan yang dilakukan Negara terhadap umat Tuhan. Pesan Natal biasanya hanya menghibur dan menyukakan hati orang-orang yang memenuhi ruang-ruang ibadah  Malam Kudus 24 Desember dan Ibadah Natal 25 Desember.

  1. Natal Berbicara Tentang Kasih Allah

Kasih Allah itu berbicara tentang keadilan, kebenaran, kejujuran, dan kedamaian. Kasih Allah bersuara dan menentang kuasa Iblis, dosa kejahatan, kekerasan, kebohongan, keangkuhan, penindasan, perang, operasi militer atas nama keamanan nasional atau kepentingan NKRI yang merendahkan dan merampas martabat kemanusiaan. Kasih Allah itu bersuara dan mengoreksi sejarah yang salah dan membebaskan manusia dari pendudukan dan penjajahan, seperti yang terjadi atas umat Tuhan di West Papua. Kasih Allah itu memperbaiki yang salah dan menuntun orang ke jalan yang benar dan jujur.

Karena itu, refleksi Natal tahun 2018, saya sampaikan dengan Tema: “Rakyat West Papua Sesungguhnya Tidak Butuh & Tidak Perlu Perlindungan dari TNI/Polri Karena Sebelum Indonesia Menjajah Papua, Bangsa Ini Pernah Hidup Damai Bersama TUHAN Allah di Atas Tanah Leluhur Mereka.”

Dalam perayaan Natal menyambut Kasih Allah kepada umat manusia supaya manusia bebas dari kuasa Iblis dan kuasa dosa, maka dalam pesan Natal harus mengoreksi kuasa pemerintah dan TNI-Polri, TPN-OPM yang menindas dan membantai umat Tuhan di Tanah West Papua. Pemerintah, TNI-Polri harus dididik, diajar, dikoreksi dan ditegur, diperbaiki dengan kuasa Kasih Allah melalui pesan-pesan Damai Natal.

Sampaikan dengan jujur dan benar berdasarkan kasih yang bersumber dari Allah kepada Pemerintah Indonesia, TNI-Polri, bahwa Anda bukan pelindung umat Tuhan dalam konteks Papua. Anda berada di West Papua secara ilegal, sejarah penggabungan yang salah dan dosa. Pemerintah, TNI-Polri datang merusak tatanan kehidupan dan kedamaian yang sudah ada di West Papua.

Natal sebagai pesan damai menentang perang di Nduga, pesan Natal juga menyatakan 1 Mei 1963 dan  pepera 1969 malapetaka  dan kejahatan kemanusiaan yang merusak dan menghancurkan kedamaian. Sampaikan dengan jujur dan benar bahwa TNI-Polri sumber dari konflik dan kekacauan dan pembuat onar yang merabik-rabik kedamaian di West Papua.

  1. Pesan Natal Harus Bebaskan Manusia dari Kuasa Penjajahan Iblis dan Kuasa Penjajahan Indonesia di West Papua

Setiap Natal 24-25 Desember, dalam konteks West Papua, para pendeta, imam, pastor, gembala hanya mengejar kuasa Iblis dan kuasa dosa yang tidak kelihatan. Dalam pesan Natal hanya berbicara kasih dan damai yang semu, hampa dan kosong. Para pendeta dan pastor berkhotbah keselamatan dan pengharapan untuk di awan-awan atau Alkitab berbicara di sorga.

Para pendeta dan pastor dan gembala jarang bahkan tidak pernah koreksi kuasa Iblis, kuasa dosa, kuasa kejahatan, kuasa pembunuhan, kuasa penindasan penguasa Indonesia, TNI-Polri yang nyata-nyata membantai umat Tuhan selama 57 tahun sejak 1961-2018.

 Setiap Pesan Natal 24-25 Desember disampaikan oleh para pendeta, pastor, gembala di West Papua hanya menyukakan hati para penguasa yang hadir dalam perayaan Natal. Pesan Natal yang kosong seperti ini tidak membantu dan tidak menyelamatkan roh para pejabat, terutama para Petinggi TNI-Polri dan anggota. Mereka harus diselamatkan dengan pesan Natal yang jujur, benar dan tegas dilandasi dengan kasih yang tulus untuk membebaskan mereka dari jurang kebinasaan. 

Melalui refleksi Natal ini, pesan penting yang saya mau dsampaikan, terutama para penguasa Indonesia, TNI-Polri yang menduduki dan menjajah bangsa West Papua, pada saat Anda menyatakan Selamat Natal, dalam hati Anda kepada TUHAN Allah, kepada Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus, Anda HARUS mengatakan: “Saya Salah dan saya Keliru dan Saya Tidak Berhak untuk menipu Terus Menerus Orang Asli West Papua pemilik Negeri ini. Saya merusak kedamaian  hidup dan mempertahankan proses sejarah yang salah. Saya mau  berdamai dengan Allah dan berdamai dengan sesama. Saya bukan pelindung rakyat West Papua, karena Engkau sebagai TUHAN Pelindung dan Pemelihara dan Penjaga mereka.” 

Anda yang membaca refleksi Malam Kudus & Natal 25 Desember 2018, merasa terganggu atau mendapat berkat, tolong hubungi di O8124888458.

IWP, 24/12/18.

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Tagged with: ,
Ditulis dalam Artikel dan Opini, Suara Baptis

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: