Refleksi 52 PGBP secara Organisasi di Tanah Papua


Oleh Pares L.Wenda

Foto: Parel L.Wenda (Dok: MW)

MAJALAWEKO, – Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua saat ini adalah hasil pelayanan dari Misi Australian Baptist Missionary Society atau lebih dikenal dengan ABMS yang sekarang berganti nama menjadi Global InterAction disingkat GiA. Misi ABMS dimulai dari Tiom saat ini ibu kota Kabupaten Lanny Jaya. Misi ABMS meinginjakkan kakinya pada 28 Oktober 1956. Pelayanan 50 tahun pertama dirayakan pada tahun 2006. Organisasi PGBP ini dibentuk melalui suatu Konferensi gereja Baptis di Yaneme, Makki, Kabupaten Lanny Jaya pada 14 Desember 1966. Pelayanan organisasi PGBP dirayakan 50 tahun emasnya pada tahun 2016 di Makki.

Sejarah pelayanan misi atau sejarah permulaan hingga 50 tahun karya misi ABMS dan orang asli Papua 1956-2006 ditulis oleh Kiloner Wenda, Pares L.Wenda, dkk dengan judul buku Sejarah Gereja Baptis Papua Barat diterbitkan pada tahun 2009 oleh Gramedia Jakarta. Sementara Sejarah Kepemimpinan Gereja Baptis Papua ditulis oleh Dr. Socratez Sofyan Yoman pada tahun 2017.

Dalam pembentukan organisasi PGBP, misi ABMS hanya membutuhkan waktu 10 tahun. Mengapa hanya 10 tahun? Ada tiga alasan. Dalam khotaba Pdt. Leir Wenda pada HUT ke-52 tahun 14 Desember 2018 di Gereja Baptis Yame mengatakan alasan utama yang pertama adalah tua-tua Rohani saat itu sudah paham tentang tata acara pelayanan gerejawi antara lain mereka sudah bisa melaksanakan pembinaan dan kelas baptisan, mereka sudah bisa melaksanakan pembinaan dan pernikahan, mereka sudah bisa melaksanakan perjamuan kudus, mereka sudah bisa mempersiapkan khotbah dengan baik.

Alasan kedua menurut saya adalah pada saat itu masa transisi pemerintahan Belanda ke Indonesia.  Jika sewaktu-waktu misi dipulangkan oleh pemerintah, orang asli Papua sudah mempunyai organisasi gereja yang dapat menghimpun mereka menjadi satu di dalam gereja Baptis, sehingga mereka tetap ada, walupun misi sudah pulang. Alasan ketiga jangan ada misi lain yang masuk klaim orang asli Papua yang dimenangkan dan menjadi Baptis masuk organisasi gereja lain.

Dalam hal kepemipinan ABMS telah mendorong bahwa kepemimpinan tidak harus dicari, kepemimpinan lahir secara alami di dalam pelayanan dan organisasi, sehingga umat dan para pimpinan gereja  sudah tahu bahwa pemimpin selanjutnya si Aatau si B. Jadi setiap orang tidak berlomba-lomba dan merebut pucuk pimpinan. Setiap orang harus berposisi dalam karunianya masing-masing. Dan ini suatu prinsip dasar kepemimpinan yang sangat baik. Namun sesuai tradisi gereja Baptis sejak didirikannya dalam konteks memilih pemimpin selalu memilih secara demokratis melalui utusan-utusan gerejaNya.

Jadi pemimpin gereja Baptis dimanapun tidak pernah dipilih oleh Badan Pengurus Wilayah, pimpinan dipusat/sinode, atau gembala sidang. Pemilihan pemimpin tertinggi tahapan pertama sudah dilakukan di gereja. Suara jemaat itu dibawah oleh utusan gereja local kepertemuan konferensi/Kongres. Mereka yang diutus gereja dilarang memilih calon lain, selain yang sudah disepakati jemaat. Untuk maksud tersebut telah diatur di dalam AD/ART.

Kekurangannya dari semua pelayanan misi adalah kurangnya pendokumentasian, karena fungsi administrasi surat menyurat, keuangan tidak diperlengkapi dengan baik. Ada alasan yang tidak tertulis tetapi tersirat bahwa misi pernah mengatakan kalau kami mengajarkan hal keuangan dan manajemen, kami kawatir kamu akan meninggalkan gereja ini dan pergi mengejar hal-hal duniawi (pernyataan ini perlu sekali dicari kebenarannya), namun beberapa diskusi dengan tua-tua saya mendengarnya. Meskipun demikian ini gereja dan karena itu informasi seperti ini harus dicari tahu kebenarannya. Karena perlu menjaga nama baik Misi dan juga hasil pelayanan mereka.

Pengenalan Organisasi Modern

Orang Baptis dalam sejarah berorganisasi modern mereka diperkenalkan pertama kali organisasi gereja dari Misi ABMS. Dan gerejanya itu adalah gereja Baptis. Sehingga setiap anak Baptis dari suku Lani di La Pago wajib menjadikan gereja Baptis sebagai mama yang memberikan arah kehidupan berorganisasi modern, tidak hanya dalam urusan hubungan Tuhan dengan manusia dan sesama, tetapi juga memberikan pengetahuan tentang berorganisasi modern.

Kalau ada anak Baptis Lani yang menyangkal Baptis sama halnya dengan menyangkal akarnya sendiri di dalam Yesus dan organisasi yang memperkenalkan Tuhan Yesus dan cara berorganisasi modern. Jika anda tidak pernah menjadi pengurus namun minimal anda sudah pernah masuk gereja sebagai tempat ibadah. Karena gereja didirikan oleh Yesus sendiri di atas batu karang yang teguh. Seperti pernyataan Yesus kepada Petrus berikut ini:

“Matius16:18. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya”.

Lalu pertanyaan berikutnya adalah apakah orang Lani tidak berorganisasi sebelum Misi masuk di wilayah Baptis Lani? Ini pertanyaan penting yang perlu di jawab dengan baik agar dipahami dengan jelas. Saya ingin menjelaskan pertanyaan ini dari dua pandangan yakni dari firman Tuhan dan dari sudut padang ilmu pengetahuan.  Dari sudut pandang Bible menjelaskan bahwa setiap orang bekerja berdasarkan karunia. Berikut kutipan firman Allah, yakni:

Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat,dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. 1 Kor.12:8

Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu. 1 Korintus 7:7.

Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karuniayang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Roma 12:6. R

Karunia ini diberikan bukan bawaan sejak lahir tetapi diberikan oleh Tuhan, berdasarkan kestiaan setiap orang. Karena dibagian lain dari Bible mengatakan jika setiap yang kepadanya diberikan karunia tetapi tidak dikembangkannya maka karunia tersebut diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkannya. Badingkan pada Matius 25:14-30.

Sementara, dari sudut pandang ilmu pengetahuan terutama dari pandangan antropologi bahwa setiap orang bekerja atas dasar skill dalam semua ketersediaan lapangan kerja. Pembagian kerja ini dilakukan seorang ahli antropolog keturunan Yahudi berkebangsaan Prancis bernama Emmile Durkheim lahir 15 April 1858  – meninggal 15 November 1917 pada umur 59 tahun. Kondisi orang Baptis Lani sebelum misi masuk mungkin seperti yang digambarkan Emmile Durkheim sebagi berikut:

Orang Baptis Lani berada dalam kondisi solidaritas mekanis, dimana Durkehim menjelaskan bahwa:

“solidaritas mekanis didasarkan pada suatu kesadaran kolektif yang dimiliki individu-individu yang memiliki sifat-sifat dan pola-pola normatif yang sama. Ciri dari solidaritas mekanik adalah tingkat homogenitas individu yang tinggi dengan tingkat ketergantungan antar individu yang sangat rendah. Hal ini dapat dilihat misalnya pada pembagian kerja dalam masyarakat. Dalam solidaritas mekanis, individu memiliki tingkat kemampuan dan keahlian dalam suatu pekerjaan yang sama sehingga setiap imdividu dapat mencukupi keinginannya tanpa tergantung dengan individu lain”.

Masyarakat Baptis Lani hidup dalam konfederasi-konfederasi yang aturan budayanya sangat ketat. Ketersediaan pekerjaan dan keahlian hanya pada bertani, perang saudara (ahli perang, pembagian tugas perang), ahli pengobatan tradisional, peternakan babi, ahli pembuat panah dan anak panah, dan lain-lain. Pekerjaan-pekerjaan ini tidak dikerjakan berdasarkan keahlian yang diperoleh dari hasil didik seperti sekolah dewasa ini. Tetapi didik secara budaya dalam keluarga masing-masing, sehingga hubungan kerja dan pemenuhan kebutuhan hanya berlaku pada keluarga dan konfederasi masing-masing. Konfederasi itu seperti konfederasi Yoman-Wenda, Wenda-Kogoya, Wenda-Tabuni, Yigibalom-Kogoya, Murib-Tabuni, dll.

Namun seiring dengan misi Baptis masuk pada orang Lani lalu membuka akses untuk mengenal organisasi modern yang dimulai dari organisasi Baptis. Sehingga spesialisasi kerja yang tadinya berlaku hanya bagi keluarga dan konfederasinya berkembang menjadi lebih luas lagi dengan hadirnya satu organisasi Baptis sebelum pemerintah.

Dalam konteks ini Durkheim mengistilakan dengan solidaritas organik.

Solidaritas ini didasarkan pada tingkat saling ketergantungan yang tinggi akibat semakin beragamnya pembagian kerja sehingga memunculkan spesialisasi pekerjaan. Masing-masing individu memiliki suatu keahlian dan ketrampilan tertentu dalam suatu pekerjaan sehingga tanpa kehadirannya akan mengakibatkan individu lain tidak dapat mencukupi keinginannya. Akibatnya Individu semakin berbeda dengan individu lain sehingga ada saling ketergantungan antar individu ke dalam satu hubungan relasional yang bersifat fungsional.

Dari sudut pandang di atas, orang Baptis Lani pembagian kerja meluas dalam hal spesialisasi yang tadi berada dalam pembagian kerja pada budaya kerja orang Lani, kini menamba satu organisasi gereja dan juga pemerintah sehingga spesialisasi kerja orang Baptis Lani bertamba dari hasil pendidikan yang diselegarakan gereja dan pemerintah. Hal ini sejalan dengan setiap orang bekerja dengan karunianya masing-masing karunia sebagai pengajar, karunia sebagai pemimpin untuk memimpin orang, dan lain sebagainya.

Apa hubungannya dengan refleksi 52 tahun PGBP dengan kebutuhan kerja dan pelayanan hari ini. PGBP telah berumur 52 tahun artinya dari sisi usia manusia, ia sudah matang, sehingga tema PGBP saat ini yang didorong dari kantor Kepresidenan Baptis yaitu Umat Baptis harus mandiri dari sisi daya, dana dan sumber daya manusianya. Dari pengalaman pelayanan selama 52 tahun.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak kita semua sebagai orang-orang yang sudah bergelut dalam pelayanan gerejawi, maka kita perlu meningkat pelayanan PGBP dalam bidang penataan administrasi, penataan keuangan gereja, pelayanan penginjilan dan lainnya melalui 4 (empat) kebijakan pokok PGBP yaitu Penginjilan, pengembangan SDM, Pemberdayaan Ekonomi Umat, dan Hak Asasi Manusia. Kebijakan ini penting dikawal dalam kerangka pemajuan wilayah pelayanan PGBP baik secara vertical hubungan denngan Tuhan, dan horizontal yaitu hubungan dengan sesama manusia dan alam.

Lalu siapa yang melakukan perubahan itu? Perubahan dan pemajuan tidak hanya dilakukan oleh Pemimpina Gereja dari tingkat Kantor Kepresidenan Baptis, tetapi juga di wilayah dan gereja-gereja local. Secara structural umat ada di Jemaat karena itu setiap jemaat harus dapat menterjemahkan 4 kebijakan tadi di dalam pelayanan jemaat. Berangkat dari  petunjuk Firman Tuhan dan pandangan Durkheim yang telah dijelaskan di atas. Semoga.

Penulis adalah anggota Departemen Informasi dan Komunikasi PGBP dan Juga Ketua Pemuda Gereja Baptis se Dunia Perwakilan Indonesia dari Papua base di Washington, USA.

@Baptist Papua 18 Desember 2018.

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Tagged with: , , ,
Ditulis dalam Artikel dan Opini, Suara Baptis

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: