Ideologi Indonesia yang Ditanam di Tanah Tandus dan Disemak-Semak Duri


Oleh Dr. Socratez S.Yoman

IMG_20180822_120602

Dr. Yoman

  1. Pendahuluan

Rasa lucu dan aneh menurut penulis. Tapi penulis merasa sangat terhina. Keluguan dan kepolosan rakyat dan bangsa West Papua dimanipulasi. Pendekatan dan cara-cara yang tidak bermartabat. Cara-cara pemaksaan yang merendahkan martabat rakyat kecil yang tidak tahu maksud dan tujuan orang-orang dianggap penguasa tapi kolonial yang memaksa bangsa lain. 

Penulis sebagai orang yang sudah sekolah sangat tidak setuju saudara Kapolda Papua dan Pangdam XVII Cenderawasih atau Dandim Wamena??? datang di distrik Pirime dan paksakan rakyat dan anak-anak kecil di kepala diikat bendera merah putih.

Seperti Firman Tuhan tertulis ada benih-benih yang ditabur dipinggir jalan, ada yang jatuh di tanah berbatu-batu, ada yang ditabur disemak duri dan ada yang ditabur di tanah subur.

Apakah tidak ada cara-cara yang benar, tepat, bermartabat dan terhormat dan terukur menanamkan nasionalisme ke-Indonesia-an untuk rakyat dan bangsa West Papua?

Metode ini sudah usang dan kuno dan primitif. Hari ini kita berada di era teknologi, era modernisasi dan telekomunikasi. Pendekatan seperti ini sama saja dengan menanam benih-benih ke-Indonesia-an di semak duri, di berbatu-batu dan dipinggir jalan. Benih atau bibit itu bertumbuh sebentar tetapi akan layu dan mati sebentar.

  1. Indonesia gagal memenangkan hati rakyat West Papua

Kalau mau membangun nasionalisme ke-Indonesia-an yang kokoh dan kuat dalam hidup rakyat dan bangsa West Papua ialah aparat kepolisian tangkap dan adili dan hukum aparat keamanan yang menembak mati Penduduk Asli West Papua. Contohnya: tangkap dan adili dan hukum anggota TNI yang menembak mati 4 siswa di Paniai pada 8 Desember 2014.

Untuk apa paksa-paksa anak-anak kecil di suruh pegang bendera dan disuruh ikat di kepala dan difoto dan disebarkan. Kami bukan boneka. Kami bukan binatang. Kami manusia yang punya harga diri dan martabat.

Sudah cukup. Kalau mau bangun dan memajukan dengan cara-cara yang wajar dan elegan dan beradab. Kami tidak selamanya bodoh.

“Bagaimana pun bodoh dan primitifnya suatu bangsa, ia akan tumbuh, berkembang dan memiliki naluri mempertahankan hidup” (Mayon Sutrisno: Arus Pusaran Soekarno: Roman Zaman Pergerakan, 2002, hal. 122).

Hai putra-putri bangsa West Papua bergelar sarjana, Master,Doktor dan bergelar muka bekakang, dimanakah hati nuranimu? Dimanakah matamu? Dimanakah imanmu? Dimanakah mulutmu? Dimanakah taring dan taji ilmumu? Apakah Anda terus menonton bangsamu dibuat seperti permainan dan boneka oleh bangsa kolonial Indonesia yang menduduki bangsa kita?

Uskup Dom Carlos Filipe Ximenes Belo, SDB, menyatakan suara kenabiaannya:

“…dalam realita kalau sudah menyangkut pribadi manusia, walaupun dengan alasan keamanan nasional, Gereja akan memihak pada person karena pribadi manusia harganya lebih tingginya dari pada keamanan negara atau kepentingan nasional.”
(Sumber: Frans Sihol Siagian & Peter Tukan. Voice of the Voiceless, 1997, hal. 127).

Doa dan harapan penulis, doa-doa dari orang-orang dari balik honai itu menyertai para pemilik bendera merah putih yang datang menyapa mereka. Apakah sapaan mereka tulus?

Hidup kita jangan berpura-pura. Karena hidup ini ada batasnya. Kekuasaan yang kita miliki hanya sementara. Yang lebih berkuasa dan yang lebih kekal ada, yaitu TUHAN.

Waa….

Ita Wakhu Purom, 31 Oktober 2018;20:37PM

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Ditulis dalam Artikel, Opini

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: