Pengertian Penegakkan Hukum yang Keliru, Berwatak Kolonial, Diskriminatif Rasial dan Berbasis Kebohongan


Oleh Dr. Socratez S.Yoman

  1. Pendahuluan

Penulis merasa terpanggil untuk memberikan pendidikan dan pengajaran yang benar, adil dan jujur kepada pemerintah Indonesia dan TNI/Polri sebagai kolonial moderen yang menduduki, menjajah dan menindas rakyat dan bangsa West Papua. Pendidikan dan pengajaran yang bernafaskan kebenaran dan kejujuran ini juga untuk kaum migran/pendatang Melayu Indonesia yang datang, hidup dan tinggal dan berkarya di Tanah leluhur dan tanah milik bangsa West Papua.

1.1. Mengapa perlu ada pendidikan dan pengajaran yang benar, adil dan jujur kepada pemerintah Indonesia dan TNI/Polri?

1.2. Mengapa artikel ini ditulis dengan judul: Pengertian Penegakkan Hukum yang Keliru, Berwatak Kolonial dan Diskriminatif Rasial dan Berbasis Kebohongan?

Karena ada pelestarian kebohongan dan rekayasa sebagai bagian dari disinformasi yang dilakukan oleh penguasa pemerintah Indonesia dan TNI/Polri sejak West Papua diintegrasikan ke dalam wilayah Indonesia secara paksa dengan moncong senjata oleh ABRI (kini TNI) pada pepera 1969.

Pemerintah Indonesia dan TNI/Polri berbohong di West Papua; berbohong di Melanesian Spearhead Group (MSG), berhohong di Pacific Islands Forum (PIF) dan berbohong di Perserikatann Bangsa-Bangsa (PBB).

Wakil Presiden RI Haji Muhammad Jusuf Kalla dan para diplomatnya dengan bangga mempromosikan kebohongan pemerintah Indonesia di depan wajah para pemimpin terhormat dunia dalam Sidang Umum PBB di New York pada September 2018, dengan menyatakan: “di West Papua tidak ada pelanggaran berat HAM.”

Tulisan artikel pendek ini meresponi komentar Kapendam XVII Cenderawasih Kol. Inf. Muhammad Aidi yang menanggapi kementar Dr. Neles Tebay, Ketua STFT Fajar Timur dan Ketua Jaringan Damai Papua (JDP) yang berjudul: Keliru: Dr. Neles Tebay Minta Gencatan Senjata Antara TNI/Polri & TPN/OPM ( Nusantarabicara. id 11/10/2018).

Sebelumnya Pater Dr. Neles Tebay menyampaikan seruan moral supaya ada Gencatan Senjata Antara TNI/Polri dan TPN/OPM (Cenderawasih Pos 09/10/2018) menuju dialog damai dan menciptakan West Papua sebagai wilayah Damai.

Penulis mengutip apa yang disampaikan Kol.Inf. Muhammad Aidi.

“Bagaimana mungkin Negara dalam hal ini TNI/Polri dituntut melaksanakan gencetan senjata dengan pemberontak yang telah melakukan serangkaian aksi kekerasan?

Kol. Inf. Aidi merinci beberapa kasus kekerasan di West Papua yang pelakunya tidak jelas selama ini.

Dr. George Junus Aditjondro dalam bukunya: Cahaya Bintang Kejora: Papua Barat dalam Kajian Sejarah, Budaya, Ekonomi, dan Hak Asasi Manusia (2000) membenarkan OPM buatan/ binaan TNI.

“Jadi yang menghidupkan OPM juga tentara. Sekali lagi, maksudnya adalah biar ada uang operasi yang bos-bos atau jenderal-jenderalnya bisa makan. Kalau yang prajurit-prajurit, makannya cukup hasil tukar burung kuning…(hal.174). “Salah satu problem politik yang sering menghantui rakyat Papua, yakni “OPM bayangan/ ciptaan aparat…” (hal. 175)”….agar tentara yang di Papua Barat punya budaya yang agak longgar OPM perlu dibesar-besarkan” (hal. 178).

Setelah Kol. Aidi mengajukan pertanyaan, ia menguraikan beberapa kasus kekerasan.

“Saat KKSB melaksanakan serangkaian aksi kekerasan; penyerangan ribuan warga sipil di Tembagapura, pembakaran fasilitas umum (sekolah, rumah sakit) bahkan puluhan rumah warga di Banti Kompleks, penganiayaan dan pemerkosaan terhadap guru sukarelawan di Arwanup, penembakan terhadap pesawat sipil di Nduga, pembantaian terhadap pekerja jalan di Mugi, Sinak serta tempat lain, penembakan terhadap aparat TNI/Polri di Puncak Jaya, termasuk anggota sipil Negara (ASN), serta rangkaian kejahatan dan kekerasan lainnya. Bapak Dr. Neles Tebay kok tidak pernah bersuara? Giliran sekarang aparat keamanan sedang melaksanakan penegakkan hukum di Negara berdaulat NKRI ini, tiba-tiba Neles Tebay muncul minta aparat keamanan meletakkan senjata?

  1. Penegakkan Hukum yang Keliru

Apakah Pemerintah Indonesia dan aparat TNI/Polri berpikir bahwa rakyat dan bangsa West Papua adalah manusia-manusia yang mudah dibohongi dan dibodohi terus-menerus?

Terutama TNI/Polri (dulu ABRI) pada pepera 1969 bisa berbohong dan gunakan kekerasan moncong senjata. Tetapi, untuk sekarang pada 2018, TNI/Polri sedang berhadapan dengan orang-orang yang sudah sekolah.

2.1. Mengapa TNI/Polri belum tegakkan hukum dengan menangkap dan mengadili pelaku penembakan empat siswa di Paniai pada 8 Desember 2014?

2.2. Mengapa TNI/Polri belum pernah tegakkan hukum dengan mengungkap penculikan dan pembunuhan Aristoletes Masoka sopirnya Theodorus (Theys) Hiyo Eluay? Dimana sekarang keberadaan Aristoteles?

2.3. Apakah mempromosikan penculik dan pembunuh Theys Hiyo Eluay menjadi Kepala BAIS itu yang dibanggakan dan disebut penegakkan hukum NKRI dalam Negara berdaulat?

2.4. Siapa yang menculik dan menembak mati suara Cenderawasih Arnolp Clemens Ap? Siapa yang menembak mati Edwardus Mofu? Siapa yang menembak mati Jenderal Kelly Kwalik? Siapa yang menembak mati Yustinus Murip? Siapa yang menembak mati Mako Tabuni? Siapa yang menembak mati Yawan Wayeni? Siapa yang menembak mati pdt. Elisa Tabuni? dan masih ratusan bahkan ribuan umat Tuhan yang dibantai seperti hewan dan binatang atas nama NKRI.

2.5. Bagaimana penegakkan hukum terhadap kebiadaban/kekejaman Negara yang dilakukan TNI/Polri ini? Dimana keadilan dalam penegakkan hukum? Penegakkan hukum diskriminatif kejam ini yang disebutkan penegakkan hukum?

Pemerintah Indonesia dan TNI/Polri sangat keliru dalam memahami hukumnya sendiri.

Pemerintah Indonesia dan aparat TNI/Polri berusaha dan bekerja keras untuk mengalihkan/ mengaburkan kejahatan dan kekerasan Negara selama 57 tahun sebagai pelanggaran berat HAM ke arah kekerasan TPN/OPM.

Tetapi, kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran berat HAM sudah menjadi noda hitam di mata komunitas global/ Internasional. Waa…

IWP, 121018;08:05.

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Tagged with: , ,
Ditulis dalam Artikel dan Opini, Hukum, Polhukham, Suara Baptis, Suara Gereja

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: