ABRI Menangkan PEPERA 1969 dan TNI Melawan ULMWP 2018


Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman

IMG_20180822_120602

Dr. Yoman

  1. Pendahuluan

Kita semua tahu bahwa ABRI (kini TNI) merupakan benteng Negara dan ia diberikan wewenang secara konstitusional untuk menjaga keutuhan Negara Republik Indonesia, mengusir dan melawan musuh yang rong-rong pemerintah dan juga ia sebagai pelindung rakyat. Tugas dan tanggungjawab mulia yang diemban ini patut dihormati dari seluruh rakyat Indonesia.

Dalam tugas dan peran itu, ABRI pernah memasukkan dan menggabungkan wilayah West Papua ke dalam wilayah Indonesia dengan kekerasan dan kekejaman moncong senjata yang menyebabkan ada air mata, tetesan darah, penderitaan dan tulang belulang umat Tuhan berserakkan yang menghiasi wajah Tanah Melanesia di West Papua.

Artikel ABRI memenangkan Pepera 1969 dan TNI melawan perjuangan ULMWP 2018, ini ditulis dalam semangat ingatkan & sadarkan kita tentang peristiwa semua tragedi kemanusiaan yang memperpanjang & mengkekalkan penderitaan umat Tuhan, bangsa West Papua sebagai pemilik dan pewaris Tanah/ Negeri ini.

Kekejaman/kejahatan ABRI/TNI terbentuk wajah/potret penjajah & kolonial Indonesia di West Papua dengan leluasa merampok tanah kami, meminggirkan dari tanah kami, merampok budaya kami, menghancurkan harga diri kami, merendahkan martabat kami, kami dibantai seperti hewan dan binatang atas nama Patung Firaun Moderen NKRI menuju pada proses genosida secara sistematis, terprogram, terstruktur & masif. Kami dibuat tidak punya tanah di atas tanah leluhur. Kami dibuat tidak punya hutan di atas hutan kami. Emas kami dirampok. Ikan kami dirampok. Sumber Daya Alam kami dirampok. Kami bibuat tidak ada kepastian masa depan anak & cucu kami. Ini realita hari ini. Ada dimata kita. Kita alami dan hadapi tiap hari. Ini sudah menjadi kehidupan kita yang tidak manusiawi. Rakyat West Papua berada dalam kehidupan nyata yang sangat buruk dan sangat tidak normal walau kita sudah berada di era berperadan tinggi/moderen.

Sangat benar, amin dan ya, apa yang dikatakan Amiruddin al Rahab dalam bukunya: Heboh Papua: Perang Rahasia, Trauma dan Separatisme (2010).

“Papua berintegrasi dengan Indonesia dengan tulang punggungnya pemerintah militer (hal. 42). Kehadiran dan sepak terjang ABRI yang kerap melakukan kekerasan di Papua kemudian melahirkan satu sikap yang khas Papua, yaitu Indonesia diasosiasikan dengan kekerasan. Untuk keluar dari kekerasan, orang-orang Papua mulai membangun identitas Papua sebagai reaksi untuk menentang kekerasan yang dilakukan oleh para anggota ABRI yang menjadi representasi Indonesia bertahun-tahun di Papua….Orang-orang Papua secara perlahan, baik elit maupun jelata juga mulai mengenal Indonesia dalam arti yang sesungguhnya. Singkatnya dalam pandangan orang Papua, ABRI adalah Indonesia, Indonesia adalah ABRI” (hal. 43).

Frof. Dr. Franz Magnis-Suseno membenarkan kekejaman & kejahatan pemerintah Indonesia terhadap rakyat & bangsa West Papua.

“Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak berdab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia” (hal. 255) ….kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab sebagai bangsa yang BIADAB, bangsa PEMBUNUH orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam” (hal. 257, Sumber: Kebangsaan, Demokrasi? Pluralisme, 2015).

  1. ABRI Memenangkan Pepera 1969

Sintong Panjaitan dalam bukunya: Perjalanan Seorang Prajurit Peran Komando mengakui: “Seandainya kami (TNI) tidak melakukan operasi Tempur, Teritorial, Wibawa sebelum pepera 1969, pelaksanaan Pepera di Irian Barat dapat dimenangkan oleh kelompok Papua Merdeka” (2009:169).

Pengakuan Sintong Panjaitan merupakan tragedi-tragedi kemanusiaan yang dbuat oleh ABRI dalam kehidup umat Tuhan di West Papua. Apa yang disampaikan Panjaitan merupakan perilaku TNI yang menghancurkan martabat dan harapan rakyat dan bangsa West Papua mau merdeka pada 1969 dan fakta itu ada tertulis dan terbukti.

Duta Besar Gabon pada saat Sidang Umum PBB pada 1969 mempertanyakan pada pertanyaan nomor 6: “Mengapa tidak ada perwakilan rahasia, tetapi musyawarah terbuka yang dihadiri pemerintah dan militer?” (Sumber: United Nations Official Records: 1812th Plenary Meeting of the UN GA, agenda item 108, 20 November 1969, paragraf 11, hal.2).

“Pada 14 Juli 1969, PEPERA dimulai dengan 175 Anggota Dewan Musyawarah untuk Merauke. Dalam kesempatan itu kelompok besar tentara Indonesia hadir…” (Sumber: Laporan Resmi PBB Annex 1, paragraf 189-200).

Surat pimpinan militer berbunyi: ” Mempergiatkan segala aktivitas di masing-masing bidang dengan mempergunakan semua kekuatan material dan personil yang organik maupun B/P-kan baik dari AD maupun dari lain angkatan. Berpegang teguh pada pedoman. Referendum di Irian Barat (IRBA) tahun 1969 HARUS DIMENANGKAN, HARUS DIMENANGKAN…” (Sumber: Surat Telegram Resmi Kol. Inf.Soepomo, Komando Daerah Daerah Militer Tjenderawasih Nomor: TR-20/PS/PSAD/196, tertanggal 20-2-1967, berdasarkan Radiogram MEN/PANGAD No.: TR-228/1967 TBT tertanggal 7-2-1967, perihal: Menghadapi referendum di IRBA tahun 1969).

Fakta sejarah membuktikan bahwa mayoritas 95% rakyat West Papua memilih merdeka dan berdiri sendiri juga diakui pemerintah Amerika Serikat.

“…bahwa 95% orang-orang Papua mendukung gerakan kemerdekaan Papua.” (Sumber: Pertemuan Rahasia Duta Besar Amerika Serikat utk Indonesia dengan Anggota Tim PBB, Fernando Ortiz Sanz, pada Juni 1969: Summary of Jack W. Lydman’s report, July 18, 1969, in NAA).

Duta Besar RI, Sudjarwo Tjondronegoro mengakui:

“Banyak orang Papua kemungkinan tidak setuju tinggal dengan Indonesia.” (Sumber: UNGA Official Records MM.ex 1, paragraf 126).

Dr. Fernando Ortiz Sanz kepada Sidang Umum PBB pada 1969: “Mayoritas orang Papua menunjukkan berkeinginan untuk berpisah dengan Indonesia dan mendukung pikiran mendirikan Negara Papua Merdeka.” (Sumber: UN Doc. Annex I, A/7723/alinea 243, hal. 47.

  1. TNI Melawan ULMWP Tahun 2018

Perlu dicatat baik oleh para petinggi militer dan pemerintah Indonesia, pepera 1969 dan perjuangan ULMWP tahun 2018 adalah era yang berbeda dan generasi yang berbeda pula. Pada 1969 ABRI boleh saja mengumpulkan Kepala-Kepala Suku dan dipaksa dan diteror dan diintimidasi dengan moncong senjata untuk setuju bergabung dengan Indonesia.

ABRI waktu itu menghadapi/ berhadapan kebanyakan orang-orang tua asal West Papua dari bagian Pegunungan Tengah hampir 99,9% belum berpendidikan. Di era ini, TNI masih saja pakai pola usang/kuno dengan mengumpulkan Kepala-Kepala suku dan juga beberapa pemuda Papua dan diminta untuk menyatakan NKRI harga mati. Para kepala suku dan pemuda dibuat seperti BONEKA-nya TNI diikatkan dikepala bendera merah putih dan diminta menirukan jel-jel NKRI harga mati.

Penulis menonton Video Pangdam XVII Cenderawasih (???) menyampaikan ceramah yang bernuansa intimidatif kepada para seluruh Pejabat Kabupaten Nduga dan bupati Nduga, Yairus Gwijangge duduk tanpa ekspresi dan kaku mendengar ceramah dari TNI. 
“Jangan takut. Kalau ada yang mengganggu NKRI, kami TNI/Polri tidak akan membitkan mereka.”

Penulis, mananggapi ini, anggota TNI memiliki senjata tapi, kini: “KAMI SUDAH SEKOLAH. Kami punya ilmu dan iman.” Artinya, sekarang bangsa West Papua menyadari dan mengerti bahwa yang menyebabkan bangsa kami mengalami menderita panjang & mencucurkan darah, meneteskan air mata, tulang-belulang berserakkan di atas tanah leluhur ialah TNI.

Penulis sebagai orang beriman & juga berbudaya percaya dan sadar betul, bahwa “penderitaan panjang, cucuran darah, tetesan air mata, tulang-belulang umat Tuhan yang berserakkan di atas Tanah ini akan mengejar & menjadi kutuk, murka, malapetaka dalam hidup & keluarga & anak cucu selama 7 keturunan bagi mereka yang pernah sentuh dan merancang kejahatan bagi umat Tuhan. Hukum TABUR dan TUAI itu kekal & tidak bisa dibatalkan dengan moncong senjata.”

Ita Wakhu Purom, 1 Oktober 2018;13:19PM

Penulis: Presiden Baptis Papua

Editor: Nuken/MW

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Ditulis dalam Artikel, Opini
One comment on “ABRI Menangkan PEPERA 1969 dan TNI Melawan ULMWP 2018
  1. lere wenda berkata:

    Tokoh Papua Bicara Tentang NKRI

    Suka

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: