Bahaya Lahirnya Embrio Milisi Sebagai Ancaman Serius Bangsa Melanesia (Eurico Guterres di Timor-Timur dan Hendrik Yance Udam di West Papua)


Oleh Dr. Socratez S.Yoman

jdjdjd

Eurico Guterres di Timor-Timur dan Hendrik Yance Udam di West Papua

1. Latar Belakang

Tidak menjadi rahasia umum gerakan milisi di Timor-Timur (sekarang: Timor Leste) dan milisi itu juga dikenal pro-Indonesia dan jargon sekarang ialah pro-NKRI. Nama pahlawan pro-Integrasi di Dilli, Eurico Guterres lebih populer waktu itu. Guterres sesungguhnya pimpinan Pasukan Aitarak yang dipersenjatai oleh Panglima TNI Jenderal Wiranto. 

Adapun pemimpin pro-NKRI lain, Dominggus alias Kofi Annan sebagai pemimpin pasukan Dadurus Merah Putih di Maliana (Bobonaro). Selain itu ada pula Olivia Mendosa Moruk pemimpin pasukan Laksaur di Kovalima.

Ada pasukan Sakunar di Ambeno dipimpin Simao Lopez, Pasukan Pejuang Junior (PPJ) merah putih atau Bebui Junior 59 di Viqueque dipimpin Bupati Martinho Fernandez, dan Hadomi Merah Putih di Manatuto dipimpin oleh Bupati Manatuto Vidal Doutel Sarmento dan pasukan Morok juga di Manatuto dipimpin Thomas de Aquino Kalla, dan ada pula pasukan Darah Merah di Ermera, dan Darah Integrasi di Lautem.

Sesungguhnya pasukan pertama dibentuk pada 17 Desember 1998 di Ainaro dengan sebutan MAHIDI (Mati Hidup Integrasi Dengan Indonesia) yang dipimpin Cancio de Cavalho. Lalu pada Februari 1999 lahir pasukan Besi Merah Putih (BMP) markas utamanya di Maubara, Liquica yang dipimpin oleh Dominggus Sousa, anggota DPRD II dari Fraksi PDIP.

Siapa yang membentuk pasukan-pasukan ini? Pertanyaan ini telah dijawab oleh Ketua Pasukan Aitarak di ibu kota Dilli, Eurico Guterres. Eurico mengeluh atau memprotes pak Wiranto.

“Kenapa hari ini kami ada di sini? Kok enak sekali pak Wiranto, dengan saya bersama kawan-kawan lain masuk daftar Serious Crime, tapi beliau jadi menteri, kok kami jadi gembel.”

“Jangan lupa kami, bahwa dimanapun kita selalu bersama-sama dan nama kita masuk dalam daftar Serious Crime.”

“Pak Wiranto selalu mendampingi Presiden ke mana-mana, tapi kami tidak bisa ke mana-mana, sehingga sudah saatnya kami menyampaikan kepada pemerintah dan juga kepada pak Wiranto, supaya nasib orang-orang ini yang pernah Bapak tahu dan kenal, bisa diperhatikan” (Sumber berita: Kupang, Kompas.com, Senin,25/09/2017).

2. Pasukan Milisi Terbentuk & Rakyat West Papua Diadu-domba

Terbentuknya Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Rakyat Cinta NKRI (DPD Gercin) Papua yang dipimpin Hendrik Yance Udam tidak diragukan misi, tujuan dan agendanya. Pembentukan kelompok ini sebagai pasukan Milisi di West Papua yang perlu rakyat dan bangsa West Papua menyikapinya dengan bijak supaya tidak terjadi adu-domba & konflik orizontal. Jelas, tujuan pasukan milisi dibangun untuk menciptakan konflik orizontal dan adu-domba antar rakyat West Papua, (Cepos, 20/09/2018)

Ada sejarah di Timor Timur (Timor Leste). “Pada 1978, pimpinan TNI di Timtim membentuk perkumpulan pemuda yang disebut Wanra atau Perlawanan Rakyat. Anggota Wanra dibina Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Selama 23 tahun, Wanra berperan membantu TNI dalam upaya mengejar kelompok yang disebut Gerakan Pengacau Keamanan (GPK). Karena itu, mereka dilengkapi dengan senjata api” (Sumber: Timor Timur Satu Menit Terakhir: Catatan Seorang Wartawan, CM Rien Kuntari, 2008, hal.56).

Paling menarik untuk menjadi pelajaran sangat berharga bagi bangsa West Papua, baik yang pro-Merdeka dan yang cinta pada NKRI. Yaitu, wartawan Kuntari dengan indah mengabadikan pelajaran bernilai.

“Di sisi lain, kelompok pro-integrasi, termasuk para pejuangnya pun semakin terjepit ke tepi. Kondisi tidak seimbang ini akhirnya membuahkan teror, intimidasi, saling tuduh, bahkan saling bunuh. Anehnya, baik pro-otonomi maupun pro-kemerdekaan, sama-sama merasa terteror dan terintimidasi. Kedua pihak merasa menjadi korban pihak lain. Karena itu, pertikaian kedua kelompok semakin sengit. Sempat selintas saya berpikir, siapa sih sebenarnya yang membuat teror? ( hal.53).

3. Bangsa West Papua PASTI Merdeka

Dalam buku saya berjudul: West Papua: Persoalan Internasional (2011, hal.4) saya menyatakan keyakinan iman saya kepada Tuhan yang mengajarkan kepada saya: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33).

“SAYA TAHU, saya mengerti dan juga sadar apa yang baktikan ini. Karena itu, Anda yakin atau tidak yakin, Anda percaya atau tidak percaya, Anda suka atau tidak suka, Anda senang atau tidak senang, cepat atau lambat, Penduduk Asli Papua Barat ini akan memperoleh kemerdekaan dan berdiri sendiri sebagai sebuah bangsa dan negara berdaulat di atas tanah leluhur mereka.

Dalam keyakinan dan spirit itu, apapun resikonya dan pendapat serta komentar orang, saya dengan keyakinan yang kokoh dan keteguhan hati nurani, saya mengabdikan ilmu saya untuk menulis buku-buku sejarah peradaban dan setiap kejadian di atas tanah ini. Supaya anak-cucu dari bangsa ini, ke depan, akan belajar bahwa bangsa ini mempunyai pengalaman sejarah penjajahan dan penderitaan panjang yang pahit dan amat buruk yang memilukan hati yang dilakukan dari pemerintah Indonesia” (Socratez Sofyan Yoman, Ita Wakhu Purom, Numbay ‘Jayapura’ Papua Barat, Kamis, 09 Juni 2011, 21:17WP).

“Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua, sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi, dan marifat, tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini. Bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri.” (Pdt. Izaac Samuel Kijne, Wasior, Manokwari, 25 Oktober 1925).

4. Kesimpulan

Pemerintah RI, aparat keamanan TNI/Polri dari berbagai Kesatuan, saudara-saudara non-Papua yang sudah hidup lama maupun yang baru datang, dan orang-orang Asli West Papua, MARILAH, kita sama-sama mencari berkat dan rahmat TUHAN dengan cara menghargai martabat manusia di West Papua. Kita semua tidak menghendaki kutuk, murka & malapetaka dari TUHAN.

Kita HARUS mengakhiri penderitaan, tetesan air mata dan cucuran darah umat TUHAN di Tanah ini.

Penulis: Dr. Ndumma Socratez S.Yoman, M.A. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua. (IWP22918).

Editor: Nuken/MW

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Ditulis dalam Artikel, Opini, Suara Baptis, Suara Gereja
One comment on “Bahaya Lahirnya Embrio Milisi Sebagai Ancaman Serius Bangsa Melanesia (Eurico Guterres di Timor-Timur dan Hendrik Yance Udam di West Papua)
  1. lere wenda berkata:

    Genosida Terhadap Domba, Akibat Gembala Yang Gagal

    “Bapak Socratez yang terkasihani, jadilah Gembala yang benar, jangan punahkan domba-domba milik bapak”

    Hal ini saya tulis di dinding Facebook saya. Saya anak Papua yang selalu mengikuti tulisan-tulisan Bapak di Facebook.

    Tulisan Bapak membuat anak-anak Papua bingung, saya mempertanyakan kepada bapak “bapak Gembala, tulisan bapak bukan menggambarkan pemikiran seorang gembala, tetapi lebih kepada pemikiran iblis”

    Tolong bapak jelaskan orang Papua siapa yang dirampok dan siapa yang merampok?

    Bapak Socratez jangan memfitnah orang Papua, hanya untuk mencari makan dan mencari panggung. Bapak seorang gembala seharusnya bapak mengajarkan hal-hal yang baik untuk domba-domba bapak, dan jangan merusak domba orang lain.

    Kami yang bapak maksud dirampok? Tidak benar, kami bebas, kami sudah mengelolah SDA kami sendiri, kami semakin mampu bersaing dengan non Papua, kami menjual sebagian tanah kami untuk perubahan dan untuk kebaikan bukan penyiksaan.

    “Genosida yang bapak bilang itu benar, dan genosida itu adalah ciptaan bapak sendiri”

    Ibaratnya Saya menggambarkan bapak sebagai seorang Gembala, bapak adalah Gembala yang tidak memberikan makanan yang benar kepada domba-domba milik bapak sehingga semakin lama domba-domba itu sakit dan akan punah pada akhirnya, itulah genosida yang bapak Gembala ciptakan.

    Kami, domba yang diberikan makanan yang baik, mempunyai kekuatan untuk menghadapi perubahan jaman, kami sehat dan kami bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi siapa saja, sehingga kami tidak akan punah di tanah kami sendiri.
    Berbeda dengan domba yang bapak miliki, untuk disembelih saja mungkin tidak layak, apalagi diajak untuk bekerja, maka lambat lain akan punah di kandang bapak.

    “Seperti itulah bapak, ibaratnya domba yang bapak pelihara lambat laun akan punah”

    Sebagai domba, saya kasihan lihat teman saya (domba milik bapak), saya berharap bapak bisa memperbaiki cara makan dan hidup mereka, sehingga tidak ada yang mengatakan bapak sebagai “Gembala Yang Gagal”

    Terima kasih Bapak, semoga bapak bisa memahami kekuatan domba yang sehat.

    Papua, 30 September 2018
    (Domba yang sehat dan kuat)

    Suka

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: