Kebenaran dan Keadilan Tidak Bisa dibeli Atau Digadaikan dengan Uang 60 Miliar


Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman

2922115270

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto di Kantor Kemenko Polhukam, Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (27/8/2018). (KOMPAS.com/Devina Halim)

1. Pendahuluan

“…damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan KEADILAN dan KEBENARAN dari sekarang sampai selama-lamanya” (Yesaya 9:6). 

Topik artikel ini ditulis setelah penulis membaca permintaan dana 60 miliar dari pak Wiranto Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Republik Indonesia untuk diplomasi di Pasifik tentang persoalan Papua.

Wiranto mengatakan: 

“Negara-negara di Pasifik Selatan banyak menerima informasi yang keliru tentang sikap Indonesia terhadap Papua” (Kompas.com, Rabu, 5/9/2018). Lihat Disini

2. Indonesia keliru hanya kejar-kejar asapnya

Pemerintah Indonesia sangat keliru dalam menyelesaikan persoalan konflik vertikal berkepanjangan Indonesia dengan West Papua yang sudah berlangsung selama 57 tahun. Indonesia tidak sadar bahwa masalah pokok ada di Indonesia sendiri. Masalah bukan ada di negara-negara Pasifik. Indonesia adalah sumber masalahnya. Indonesia sejak dulu melakukan diplomasi berbasis kebohongan dan penuh dengan rekayasa.

Indonesia keluarkan uang besar-besaran, kerahkan diplomat-diplomat di Luar Negeri hanya untuk sibuk urus dan menghalau asapnya saja. Menebarkan kebohongan di forum terhormat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan tunjuk-tunjuk jari dalam forum resmi. Indonesia menjadi negara yang telah kehilangan moral dan etika politik. Indonesia telah kehilangan kepercayaan rakyat dan bangsa West Papua karena selalu menebarkan informasi yang keliru dan tidak sesuai fakta di lapangan.

3. Uang 60 Miliar dan fakta di lapangan

Indonesia selalu berdiri dengan mengatakan “kedaulatan negara” & NKRI harga mati. Tapi Indonesia sangat mengabaikan kedaulatan manusia & integritas kemanusiaan rakyat West Papua. Rayat West Papua direndahkan martabat dan dibantai atas nama keamanan dan kepentingan nasional dan demi NKRI.

Rakyat dan bangsa West Papua melalui United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) mempertanyaan kepada Indonesia pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

3.1. Kapan Indonesia menyelesaikan kasus penembakan 4 siswa di Paniai pada 8 Desember 2014 sesuai janji presiden Republik Indonesia? Rakyat dan bangsa West Papua telah tahu bahwa pelaku kejahatan kemanusiaan ialah aparat keamanan Indonesia, yaitu TNI.

3.2. Kapan pemerintah menyelesaikan seluruh kasus-kasus pelanggaran berat HAM yang merupakan kejahatan Negara secara sistematis selama 57 tahun? Mengapa Indonesia melakukan pemusnahan etnis Melanesia di West Papua?

3.3. Mengapa penculik dan pembunuh Theodorus (Theys) Hiyo Eluay dan yang menghilangkan Aristoteles Masoka dipromosikan menjadi Kamandan BAIS? Bagaimana penjahat dan kriminal menjadi pemimpin?

3.4. Bagaimana penerimaan mahasiswa IPDN dan anggota TNI AD tahun 2018 didominasi hampir 99% adalah orang-orang Indonesia? Apakah ini tindakan penguasa penjajah/kolonial terhadap rakyat dan bangsa West Papua?

3.5. Mengapa di West Papua tidak ada kebebasan untuk rakyat sipil menyampaikan pendapat di tempat-tempat umum?

3.6. Mengapa rakyat dan bangsa West Papua menjadi terpinggir atau dimarjinalkan di atas tanah leluhur mereka dengan merampas tanah mereka untuk membangun basis TNI/Polri dan Transmigrasi, perusahaan Kepala Sawit?

Masih banyak pertanyaan lain.

4. Akar masalah

4.1. Status politik dan sejarah pengintegrasian bangsa West Papua dalam Indonesia melalui Pepera 1969 tidak demokratis yang dimenangkan ABRI;

4.2. Pelanggaran berat HAM yang merupakan kejahatan Negara selama 57 tahun sebagai bagian pemusnahan etnis Melanesia.

4.4. Tersingkirnya rakyat dan bangsa West Papua dari tanah leluhur mereka dalam segala bidang.

5. Solusi

RI-ULMWP duduk berunding secara damai dan bermartabat yang dimediasi pihak ketiga di tempat netral. Seperti RI-GAM di Helzinki.

Terima kasih.

Ita Wakhu Purom, 6 September 2018; 06:33AM

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Ditulis dalam Berita, Polhukham, Politik, Suara Baptis, West Papua

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: