Cina di Tibet,  Indonesia di West Papua


dr Yoman

Foto: Dr.Ndumma Socratez S.Yoman, M.A (Presiden Gereja Baptis West Papua) di kantor PGBP Jayapura Papua.

Oleh Dr. Socratez S.Yoman

  1. Pendahuluan

Dalam artikel dengan judul Cina di Tibet, Indonesia di West Papua, penulis  memberikan gambaran tentang siasat tipu-muslihat dan watak kekejaman dua bangsa kolonial: Cina menduduki dan menjajah  rakyat Tibet; Indonesia sedang menduduki dan menjajah rakyat West Papua.  Mengapa penulis memilih judul artikel ini?  Para pembaca dapat mengikuti ulasan berikut. 

  1. Cina di Tibet

“Di Tibet, Tentara RRC yang menyamar menjadi pekerja. Saat ini, Tibet adalah wilayah jajahan RRC. Rezim Komunis Cina mengkleim, jika wilayah Tibet adalah bagian dari wilayah Cina.

Namun, sejarah membantah kleim tak berdasar ini.  Adalah menarik,  awal penjajahan RRC terhadap Tibet tidak didahului dengan pasukan bersenjata. Melainkan dengan membanjiri wilayah tersebut dengan para pekerja yang ternyata adalah tentara komunis yang menyamar.

Bagaimana sesungguhnya Tibet dan proses lengkap aneksasi oleh RRC?  Bisa didapat secara lengkap Di Era  Muslim Digest Edisi 12 dengan Tema: Bahaya Imperialis Kuning.  Sumber lain ialah Tears of Blood: A Cry For Tibet (Mary Craig (1999).

Dalam sejarah, kemenangan Partai Komunis Cina di bawah pimpinan Mao Tse-tung dalam perang sipil telah mengantarkan Partai Komunis Cina menjadi penguasa baru Tibet.

Tak lama setelah berkuasa, Partai Komunis Cina (PKC) bernafsu untuk menjajah Tibet dengan disebutnya sebagai pembebasan Tibet. Tibet saat itu, aman-aman saja. Sebab itu, lucu juga pemakaian istilah pembebasan oleh orang-orang Komunis ini. 

Dengan penuh tipu daya, PKC, mulai melancarkan operasi penaklukkan Tibet. Awalnya bukan mengirimkan pasukan bersenjata, namun dengan infilterasi yang dilakukan Kelompok Kerja Front Persatuan ke Tibet.

Orang-orang terlatih secara militer dikirim secara terpisah mulai membanjiri Tibet dengan berbagai dalih, antara lain: mencari kerja, mengunjungi sanak-saudara, berdagang dan membuka lahan pertanian dan lain sebagainya.
[26/8 13:44] Dr Socratez Yoman: Para kader Partai Komunis Cina yang lebih terlatih juga menyusup ke Tibet, mulai mendekati & mempengaruhi para tokoh masyarakat Tibet & elit agama. Dalam usaha ini, Mao Tse-tung diam-diam juga bekerja sama dengan sekutu Komunis, yaitu Uni Soviet. Selain infilterasi Mao Tse-tung juga melancarkan politik adu-domba  para tokoh agama Tibet antara Dalai Lama di Lhasa dengan Panchen Lama di Shigatse.

Setelah dianggap cukup lemah, maka  barulah Tentara Merah,  People Liberation Army menyerbu Tibet. Ribuan anggota Tentara Merah yang menyamar itu mengambil senjata yang disembunyikan & tentara RRC  menyerbu  dari Cina Selatan & membantai rakyat Tibet & menguasai Negeri ini. 

Tragedi ini terjadi di musim gugur pada 1950. Infansi inilah pangkal pertikaian Cina & Tibet.

Setahun kemudian, pemimpin Tibet  dilengserkan dari jabatannya. Setelah itu Cina mengangkat pemimpin boneka yang bekerja demi kepentingan Cina. Tibet berhasil dipecah-belah. Gejolak politik memanas.

Untuk bisa menguasai Tibet sepenuhnya, Beijing membangun sejumlah Mega Proyek Infrastruktur paling penting bagi peradaban moderen. Setidaknya dimata Cina antara lain: listrik, transportasi, & teknologi informasi. Semua yang dibangun RRC di Tibet, tentu saja tidak gratis, memang diperuntukkan bagi kepentingan RRC sendiri.

Tibet Watch pada 2014 melaporkan, Tibet telah jauh berubah, sejumlah proyek seperti: listrik, kereta api, bandara, & jaringan telekomunikasi telah mengubah kebudayaan asli Tibet. 

Cina telah mengubah Tibet yang tradisional menjadi Boneka Cantik untuk pariwisata. Boneka Cantik yang telah kehilangan roh aslinya. Wisatawan Cinapun meluber kunjungi ke Tibet dan semua keuntungan dari wisata masuk ke kantong penguasa RRC.

Baca juga: Belanda Menjajah di Indonesia, Spanyol di Filipina, Indonesia di Papua

Dalam laporan berjudul: Cultural Clash,  Tibet Watch menulis: banyak proyek di Tibet berdampak negatif terhadap masyarakat lokal. Lingkungan, situs fisik, praktek agama, serta budaya tradisional.  Ternyata Cina mengeksploitasi Tibet seluruhnya dari alam hingga manusianya.
[26/8 13:44] Dr Socratez Yoman: Senada dengan laporan Tibet Watch, Cultural Survival lembaga nirlaba pendukung kelangsungan kebudayaan masyarakat Tibet melaporkan bahwa banyak orang Tibet tidak memperoleh manfaat ekonomi sedikitpun dari masuknya wisatawan ke wilayah mereka.

Sebagian besar masuknya proyek ke wilayah mereka hanya menguntungkan pekerja asal Cina, dengan kata lain masyarakat Tibet dijajah oleh Komunis Cina. Dijadikan toko dengan etalase yang cantik untuk para wisatawan kunjungi Tibet. Semua keuntungan masuk didompet majikan, penguasa RRC.

Tibet hanyalah seperti sebuah toko yang dieksploitasi setiap hari hingga kering dan mati. Bagi orang luar Tibet melihat RRC membangun Tibet dari tradisional menjadi moderen. Infrastruktur dibangun di mana-mana. Namun itu pandangan orang luar yang sangat salah.

Bagi pribadi orang Tibet yang sangat religius,  Buddha menjadi agama mayoritas, mengatakan semua yang dibuat Cina itu merusak semua yang ada di Tibet. Jati diri asli, lokal wisdom, harga diri orang Tibet dihancurkan.  Orang Tibet menjadi babu. Orang Tibet menyembah-nyembah majikan dari Cina. Kalau melawan, Tentara Merah siap mencabut nyawa orang Tibet kapan saja.

  1. Indonesia di West Papua

Para pembaca artikel yang mulia telah membaca pengalaman rakyat Tibet atas siasat dan strategi yang dibangun oleh Cina untuk menduduki, membantai dan menjajah dan menguasai atas rakyat Tibet.

Kita komparasikan  pengalaman rakyat Tibet dalam konteks pendudukan dan penjajahan yang dilakukan penguasa Indonesia  atas rakyat dan bangsa West Papua,  sepertinya hampir mirip.

Ir. Sukarno dengan semangat Trikora menyatakan rebut Irian Barat dari tangan penjajah dan bubarkan Negara Boneka Buatan Belanda. Dikirimnya pasukan infilterasi tentara Indonesia, tenaga pengajar, dan juga pegawai sipil untuk memenangkan Pepera 1969.

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) waktu itu benar-benar menyerbu Papua dengan mengejar, menangkap, memenjarakan dan menembak mati yang berbeda ideologi dengan Indonesia.
[26/8 13:44] Dr Socratez Yoman: Militer Indonesia secara kejam dan brutal menghancurkan hak politik  bangsa West Papua yang sesungguhnya mayoritas 95%  memilih merdeka dan berdiri sebagai sebuah bangsa yang berdaulat penuh di atas tanah leluhur mereka.

Pemerintah Amerika Serikat juga mengakuinya.  “…bahwa 95% orang-orang Papua mendukung gerakan kemerdekaan Papua.”

(Sumber: Pertemuan Rahasia Duta Besar Amerika Serikat utk Indonesia dengan Anggota Tim PBB, Fernando Ortiz Sanz, pada Juni 1969: Summary of Jack W. Lydman’s report, July 18, 1969, in NAA).

Duta Besar RI, Sudjarwo Tjondronegoro mengakui:
“Banyak orang Papua kemungkinan tidak setuju tinggal dengan Indonesia.”

(Sumber: UNGA Official Records MM.ex 1, paragraf 126).

Perwakilan PBB yang mengawasi pelaksanaan Pepera 1969 di West Papua Dr. Fernando Ortiz Sanz melaporkan kepada Sidang Umum PBB pada 1969:

“Mayoritas orang Papua menunjukkan berkeinginan untuk berpisah dengan Indonesia dan mendukung pikiran mendirikan Negara Papua Merdeka.”  (Sumber: UN Doc. Annex I, A/7723, paragraph 243, p.47).

Pemerintah Indonesia juga menipu kepada rakyat West Papua di hadapan Dewan Musyawarah Pepera  di Merauke pada Juli 1969.

“Menteri Dalam Negeri Indonesia menyatakan: …pemerintah Indonesia, berkeinginan dan mampu melindungi untuk kesejahteraan rakyat Irian Barat; oleh karena itu, tidak ada pilihan lain, tetapi tinggal dengan Republik Indonesia” ( Sumber: Laporan Resmi PBB, 19 November 1969, alenia 18, hal. 2).

Janji omong kosong yang dijanjikan Indonesia mampu melindungi rakyat9 tapi pembantaian rakyat di West Papua terus berlangsung dan pembohongan berakar  di West Papua. Contoh terbaru: Kapan bapak Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo memenuhi janjinya untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM pada 8 Desember 2014? Bagaimana kita mau hidup  lagi dengan bangsa dan pemimpinnya yang gemar dengan janji-janji kosong & penipu besar?
Bagaimana kita mau hidup dengan bangsa  anti kebenaran dan kejujuran?
[26/8 13:44] Dr Socratez Yoman: Bukan saja pemerintah berbohong dan janji-janji kosong. Indonesia juga memaksakan dalam  menanamkan ideologi, nasionalisme dan sejarah asing yang tidak pernah ada di West Papua.

Simbol-simbol dan lambang-lambang dan ideologi kolonial Indonesia  yang dipaksakan  dalam hidup rakyat dan bangsa West Papua:  Pancasila, UUD45, Bhineka Tunggal Ika, lagu Indonesia Raya, 17 Agustus 1945, para pahlawan nasional Melayu Indonesia dan sejarah Indonesia.

Indonesia berusaha keras  menghilangkan dan menghancurkan nilai-nilai luhur budaya, bahasa dan sejarah identitas bangsa West Papua:  Sejarah 1 Desember 1961, New York Agreement 15 Agustus 1962, Roma Agreement, Pepera 1969.

Lebih penting lagi ialah nama para pahlawan nasional bangsa West Papua tetap  dihormati.  Seperti Arnold Clemens Ap, Jenderal Yustinus Murip, Jenderal Kelly Kwalik, Theodorus Hiyo Eluay,  Dr. Thomas Wapay Wanggai, Victor Kaisepo, Hermanus (Herman) Wayoi, Obed Badii, Jenderal Willem Ondy, Jenderal Tadius Yogi,  Dr. John Octo Ondowame, Clemens Runawery, Willem Zonggonauw, Jenderal Seth Roemkorem, Jenderal Ben Tanggahma, Jenderal Jacob Pray, Pilemon Yerisitouw, Amos Mauri, Amos Indey, Ibu Prisila Yakadewa, Ibu Beatrix Koibur, Ibu Josephine Gewab Rumawak, Ibu Babarina Ikari, Ibu Vonny Jakadewa, Ibu Mery Yarona, Ibu Reny Jakadewa, Ibu Minggas Firswa,  Obet Tabuni, Derek Wayoi, Marten Tabu, Uri Yoweni, Lodewijk Jakadewa, Bas Mikawa, Herman Mirip, Pilipus Kambu, Paulus Kuntui, Hengky Joku, Alex Donald Degey, Meky  Ovide, James Nyaro, Musa Mako Tabuni, Yawan Wayeni,  dan Jonathan (John) Rumbiak yang dijuluki Ramos Hortanya bangsa West Papua yang dilumpuhkan oleh FBI setelah diinterogasi di Amerika. 

Masih banyak para pejuang dan pahlawan Nasional rakyat dan bangsa West Papua yang belum didaftar dengan baik. Mereka adalah pahlawan rakyat dan bangsa  West Papua yang harus diingat dan dihormati selamanya. Semangat mereka yang telah gugur dari tangan serdadu penjajah Indobesia tetap dan masih hidup diantara kita.
[26/8 13:44] Dr Socratez Yoman: Dalam upaya pemusnahan bangsa West Papua, pemerintah juga mencanangkan Program Transmigrasi. Ini kejahatan
kemanusiaan dalam bentuk merampok tanah dan menyingkirkan pemilik tanah dan ditempatkan para Transmigran.  Selain Transmigran, para pekerja perusahaan nasional dan asing ialah orang-orang Indonesia.

Perusahaan Kepala Sawit dan ilegal logging juga bagian dari tindakan para kolonial yang merampok tanah dan hutan penduduk Asli West Papua.

Ada pula pemekaran provinsi dan kabupaten yang tidak sesuai dengan jumlah penduduk, membuktikan bagian yang tak terpisahkan dari sistem yang dibabgun penjajah atas nama pembangunan dan memperpendek kendali kesenjangan. Pemekaran sebenarnya Operasi Pengembangan Jaringan Komunikasi untuk Pengkondisian Wilayah untuk mempersempit ruang gerak penduduk asli West Papua.

Dalam realitas hari ini, penerimaan mahasiswa Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di setiap kabupaten dan kota didominasi orang-orang Indonesia. Apakah ini kalah saing atau permainan para kolonial Indonesial?  Heran juga, kami yang lahir dan besar di honai dan dibesarkan ubi bakar,  tidak kalah dari persaingan selama kita kuliah dan juga bekerja sekarang ini. Apakah benar orang-orang asli West Papua kalah bersaing?

Para Pejabat  orang-orang asli West Papua juga dipaksa untuk menyembah dan setia pada NKRI, Pancasila, UUD45 dan Bhine Tunggal Ika? Apakah memang harus menyembah patung Firaun moderen ini? Ini bagian dari merusaknya hati nurani dan pemaksaan ideologi penjajah.

Bagian lain yang kita hadapi ialah Toko-Toko Besar, Super Market, Bank-Bank Swasta, Hotel-Hotel, perusahaan Transportasi Umum benar-benar dikuasai para penjajah.

Peredaran dan penjualan minuman beralkohol (minuman keras) dengan mudah dijual dan dengan mudah juga menembus dalam pesawat untuk ke pedalaman.  
Bagian penting yang dipromosikan Indonesia sebagai akar persoalan West Papua ialah kesejahteraan dan pembangunan infrastruktur. Pemerintah  berkeyakinan, pembangunan infrastruktur dapat
[26/8 13:44] Dr Socratez Yoman: menyelesaikan pokok persoalan bangsa West Papua. Justru pembangunan  infrastruktur, pembangunan jalan, jembatan hanya mempermudah akses orang-orang  Indonesia yang didatangkan ke West Papua untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dan juga politik secara bebas.  Di Tanah West Papua dari Sorong-Merauke dipoles sebagai bonekanya Jakarta dengan pembangunan fisik, jalan, jembatan, gedung-gedung megah tanpa mengindahkan nasib penduduk asli West Papua.

Fakta sejarah membuktikan bahwa rakyat West Papua ialah bangsa yang merdeka dan berdaulat dalam segala hal di atas tanah leluhur kami,  sebelum Indonesia datang mencaplok, menduduki dan menjajah kami. Indonesia membawa  malapetaka, penderitaan,  kemiskinan, kebodohan, kejahatan, kebohongan, kekerasan yang belum pernah ada dalam hidup rakyat dan bangsa West Papua.

Setelah diuraikan tulisan ini,  telah menjadi jelas bagi para pembaca tentang watak yang ditunjukkan penjajah Cina di Tibet dan penjajah Indonesia di West Papua tidaklah beda jauh. Cina menjajah  rakyat dan bangsa Tibet dan Indonedia menjajah rakyat dan bangsa West Papua.

Untuk memperbaiki keadaan yang suram dan sangat memprihatinkan seperti sekarang ini, rakyat dan bangsa West Papua harus sadar dan bangkit untuk membangun dirinya sendiri dalam upaya penyelamatan masa depan anak dan cucu kita.

Mengapa kita sebagai sebuah bangsa dan pemilik tanah West Papua harus menyembah dan takut kepada pemerintah kolonial Indonesia yang datang menduduki tanah kami dan menjajah dan menindas bangsa kami, dan  selama ini merendahkan martabat (dignity) bangsa kami atas nama NKRI? Sadarlah dan bangkitlah untuk menyatakan bahwa ini tanah leluhur kami, tanah Melanesia bukan tanah Melayu.

Terima kasih.

Ita Wakhu Purom, 26 Agustus 2018; 13:22PM.

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Tagged with: , , ,
Ditulis dalam Artikel, Opini, Suara Baptis, Suara Gereja
One comment on “Cina di Tibet,  Indonesia di West Papua
  1. Nuten Wenda berkata:

    Wendanak an suda naik di atas pesawat baru mu trbang ow wendanak

    Suka

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: