NKRI Dalam Keadaan Darurat. Pemerintah dan TNI/Polri Membiarkan Suburnya Gerakan dan Benih-Benih Separatisme di Pulau Jawa


IMG_20180819_140232

Photo: Dr Socratez S.Yoman

Oleh Dr. Socratez S.Yoman

1. Pendahuluan

Antara News pada 22 Agustus 2018 disampaikan “sebabyak 450 prajurit Batalyon Infanteri (Yonif) 143/Triwira Eka Jaya (TWEJ) Lampung Selatan segera diberangkatkan dalam operasi pengamanan perbatasan Republik Indonesia (Patas RI) Papua.” 

Seirama dengan semangat rotasi pasukan TNI ke West Papua untuk menjaga perbatasan, ternyata dari jantung perut Indonesia sendiri ada gerakan dan benih-benih separatisme yang benar-benar mengancam keutuhan NKRI. NKRI dalam keadaan darurat. Apakah gerakan dan benih-benih separatisme ini sengaja dibiarkan dan dipelihara? Kalau itu benar, apa yang pernah dikatakan Jonathan (John) Rumbiak pelopor dan pejuang Hak Asasi Manusia West Papua ialah benar. “Militer adalah Muslim. Muslim adalah Militer.” Artinya militer dan Muslim Indonesia sama-sama melawan separatisme di West Papua. Tetapi, gerakan dan benih-benih separatisme di jantung Indonesia dibiarkan bergerak dengan bebas.

2. Ustatz Hasyim Yahya

Ustadz Hasyim Yahya melalui Mujahiddin TV pada 26 Maret 2016, dengan terang-terangan melawan NKRI, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Ikuti kutipan ceramah provokatif dan penghasutan yang bernafas separatisme dan terorisme.

“Sekian juta manusia, maka dengan membunuhnya itu adalah bahagian rahmat dari Allah. Orang Islam yang baik itu yang menjadi teroris. Buka Al Afad ayat 60. Datangkan Haji siapa, Ustadz siapa. Orang Islam itu harus jadi teroris.

Kita harus Bhineka Tunggal Ika. Bhineka Tunggal Ika, silahkan kamu yang Bhineka Tunggal Ika. Itu tidak berarti bahwa seseorang Muslim yang hidup di Negara ini harus melanggar aturan agamanya. Ketika upacara apa-upacara apa, ketika sampai waktu untuk berdoa, kita disuruh mengheningkan cipta. Mengheningkan cipta itu bukan cara Islam. Ini cara-cara orang kafir, cara orang Hindu, cara orang Nasrani.

Yang SARA, apalagi SARA. Istilah SARA itu adalah senjata kaum Nasrani, Hindu dan kaum Yahudi dan lain-lainnya.

BACA JUGA:

Ketika kita dizolimi, lalu dikatakan kepada wartawan, ini jangan dimuat, ini adalah masalah SARA. Jadi, 3 musuh kaum Muslim terbesar di Indonesia adalah Densus, PNPT & BNN. Ini adalah musuhnya Muslim.

Kalau benar-benar demikian, bahwa sesungguhnya sholatku, amalku, hidup matiku adalah untuk engkau. Kamu akan berusaha untuk jadikan Negara ini Negara Islam. Berlakunya Syariat Islam.

Mati apa kamu, kalau kamu mati bukan Islam. Mati apa kamu wahai yang tentara, wahai yang polisi, wahai yang Pejabat.

Contohnya itu saja. Tidak usah yang jauh-jauh.” Setelah kita mengikuti kutipan ceramah pak Ustadz Hasyim Yahya, memang terlihat provokasi dan hasutan dengan terbuka dan terang-terangan. Namun, kita ikuti, pemerintah dan aparat TNI/Polri sepertinya tidak ada reaksi berlebihan, bahkan gerakan-gerakan itu dibiarkan berkembang di Pulau Jawa.

Sementara Pemerintah dan aparat keamanan TNI/Polri dalam menghadapi rakyat dan bangsa West Papua yang memperjuangkan masa depan bangsanya dengan sangat brutal, kejam, tidak manusia dan perilaku biadab.

Memang harus diakui jujur bahwa Indonesia sebagai kolonial moderen sedang menduduki, menjajah dan menindas rakyat dan bangsa West Papua dengan wajah kekerasan dan pelanggaran berat HAM yang dianggap biasa. Aparat keamanan Indonesia tidak pernah merasa berdosa dan bersalah karena menembak mati Orang Asli Papua ialah bagian misi & tugas Negara.

Bukan saja provokasi & hasutan dari pak Ustadz Hasyim Yahya di media publik, tapi yang paling berbahaya sebagai bibit separatisme di Indonesia, dan Indonesia berada dalam keadaan darurat dan ancaman serius adalah penaman ide-ide anti Pancasila, NKRI, UUD45 dan Bhineka Tunggal Ika, menolak simbol-simbol Negara, tidak mau hormat bendera merah putih di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, bahkan Sekolah Menengah Atas dan Universitas-Universitas.

Selama ini, pemerintah Republik Indonesia dengan kekuatan TNI/Polri dengan ringan hati, ringan pikiran dan ringan tangan dan tampil sebagai pahlawan penyelamat NKRI, dengan kekejaman, kekerasan dan kejahatannya membantai rakyat Timor Leste sebelum mereka merdeka, membantai rakyat Aceh sebelum Perjanjian Helsinki. Dan sedang membantai rakyat dan bangsa West Papua sampai saat ini dengan alasan perlu dibersihkannya para kaum separatis yang melawan dan membahayakan NKRI.

Pemerintah dengan kekuatan TNI/Polri, kekuatan dana, undang-undang sedang sibuk menghalangi perjuangan rakyat & bangsa West Papua, sementara di halaman sendiri & di depan moncong hidungnya ada persemaian bibit-bibit/benih-benih Separatisme ditanamkan secara sadar, sistimatis.

3. Bibit-bibit Separatisme

SD Al-Albani dan SMP Al-Irsyad di Kab. Karanganyer, Jawa Tengah, jelas-jelas menjadi rumahnya persemaian bibit-bibit Separatisme di pulau Jawa.

Kepala Sekolah Dasar Al-Albani, Heru Ihwanuddin lebih moderat dengan memberikan ruang dan kebebasan kepada murid-muridnya dalam memandang ideologi, nasionalisme dan lambang-lambang kebangsaan Indonesia.

Sementara Sutardi, Kepala Sekolah Menengah Al-Irsyad lebih ekstrim dan tegas mengatakan bahwa kaum Muslim tidak perlu menyembah benda Bendera Merah Putih sebagai benda mati. Sutardi lebih takut kepada Tuhan daripada menyembah benda-benda mati.

Di SD Al-Albani dan SMP Al-Irsyad, berdiri dengan satu keyakinan bahwa tidak perlu Upacara dan hormat bendera Merah Putih, membaca Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.( Sumber berita: MetroTV, Agus Suyatno).

Apakah ceramah provokatif dari Ustadz Hasyim Yahya bukan gerakan separatis? 

Apakah sekolah yang menolak upacara & tidak menghormati bendara merah putih bukan gerakan separatis?

Mengapa hanya rakyat & bangsa West Papua dikejar, ditangkap, diculik, ditembak mati dengan stigma separatis? Dimana keadilan hukum & kesamaan hak sebagai sesama manusia?

Waa…

Penulis adalah Presiden Baptis Papua oleh Dr. Socratez S. Yoman M.A

Ita Wakhu Purom, 22/08/2018; 18:03PM

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Tagged with: , , ,
Ditulis dalam Agama, Opini, TNI dan Polri

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: