Uncen dan Jajarannya Menyiasati  Gerakan Bem Fisip Uncen


grrrrrrrrrrrrr

Ketiga pemimpin Gereja Di Papua

MAJALAHWEKO, JAYAPURA – Kami mngikuti siaran RRI “Dialog interaktif” terkait Gerakan BEM FISiP Uncen kmarin tgl 15/8/2018 yg mewajibkan “gelang bintang kejora & tulisan referendum” itu. Saat singgah di kampung Harapan Sentani kmarin soal “gelang bintang kejora” itu sedang jadi berita. Demikian juga di social media. Karena itu kami, Forum Kerja Oikumenis Gereja Papua duduk mmbahasnya dan kami bermaksud untuk memberi masukkan kpda pk Rektor & jajarannya untuk bisa hadapi dinamika ini secara tenang, obyektif gunakan kaidah2 ilmiah mnyiasati “gelang bntang kejora ini” dalam kerangka mnjaga “Papua Tanah Damai”. 

Pertama, soal “aspirasi Papua merdeka” ini mnurut kmi tidak akan lenyap selama orang Papua masih ada di tanah leluhurnya” ini. “Sentimen ini akan lenyap mungkin 10 tahun lebih ke depan saat, “bangsa Indinsia berhasil habiskan “orang asli Papua yg telah ada di tanah ini ribuan tahun sebelum makhluk2 negara bangsa sperti inggris, amerika, malaysia, indonesia, dll.

Orang Papua yang sedang bawa “semngat bintang kejora” ini sudah ada sbelum bahkan embrio dri makhluk2 negara bngsa yang “bicara lain main lain” itu hadir di bumi. Sekarang “aspirasi ini masih ada” saat Indonesia sedang giatnya habiskan orang Papua sperti yg sedang dia lakukan dengan ideologi & kebijakan yg tidak berpihak kpda orang Papua; memaksakan asimilasi total, melaksanakan ideologi dan kebijkan bias pendatang; ttpi akan hilang dalam 10 atau lebih tahun ke depan; saat orang asli Papua akan punah. Jadi untuk 10 atau lebih tahun ini kita jangan emosi hadapi soal “gelang bintang kejora” ini. Barang ini melekat dengan orang Papua sperti bangsa lain juga yg merasa dirinya dijajah karena pendudukan oleh bngsa lain. Gila bangsa (sdang dijajah) itu kalau dia sedang dijajah dan diduduki tetapi merasa dirinya merdeka.

Baca juga:

Kedua, soal penjajahan atas bangsa Papua ini ada kmi angkat 2 pngalaman. (a) di meja saya ada koran Cnderwasih pos (edisi 7 April 2016) yg mmuat pandangan warga Papua di perbatasan “yang menganggap Indonesia sebagai penjajah”. (b) Ini diperkuat dengan disertasi PhD yg dipertahankan bulan April ini di HArvard University Amrika Serikat dengan judul bhas indonsia (kalau diterjemahkan) “etnografi kolonialisme mutakhir; sejarah, pengalaman dan kesdaran politik di Papua Barat”.

Semua ini mengkonfirmasi bhwa satu2nya keberhasilan Indonsia di Papua ialah telah mmbangun ksdaran bangsa Papua bhwa dirinya sdang dijajah oleh bangsa Indonesia”. Ini pernah disampaikan Pimpinan kpda Presiden SBY desember 2011. Ksimpulannya yaitu: ksdaran & perasaan bhwa bangsa Papua sedang dijajah oleh bngsa asing sdah terbentuk dan sdah terkristalisasi dalam benak bangsa Papua. Saat siapkan dialog Tim 100 dengan Presiden Habibie tahun 1998 ada ahli sejarah yang kmi bertemu di LIPI yg mndukung pndangan ini…….

REKTOR UNCEN & JAJARANNYA (2)
Ketiga, brangkt dri butir kedua tadi kami harap gerakan dri BEM FISIP & Tehnik sipil UNCEN yg disiasati secara berlebihan kami harap tidak perlu. Pak Rektor UNCEN & JAJARANNya, tidak boleh ikut2an.

Pak Rektor & jajaran ambil cara lain: secara obyektif dan ilmiah gali pokok masalah: gali sejarah bagaimana Sejarah Pemerintah pusat menghdapi masalah2 nasionalisme Aceh (GAM) dan Timor Leste; persoalkan”mengapa NKRI bisa berunding dgn GAM melibatkan pihak ketiga (Negara)? Mengapa Jokowi tidak meminta Yusuf Kala & SBY (petinGgi yg merancang dialog damai dengan GAM) utk rancang solusi Damai Papua dengan ULMWP? Mengapa bndera GAM & partai politik localnya bisa diijinkan sementara Bintang Kejora dijadikan lahan utk cari uang & naik pangkat”. apakah karena NKRI mayoritas beragama Islam sehingga bisa “cari solusi damai” hadapi GAM yang islam; tetapi segan lakukan hal yang sama terhdap karena ULMWP \OPM yg beragama Kristen.

Apakah karena pemerintah NKRI beretnis Melayu sehinGga bisa berdamai karena GAM yg sama2 Etnis Melayu; tetapi terus gunakan kekerasan militer hadapi ULMWP/ OPM yg etnis Melanesia?. Mengapa ada perlakuan yg berbeda? Kita mendukung UNCen dengan FISIP dan akademisi yg bisa angkat soal2 ini secara ilmiah utk cari solusi yg permanen bagi masalah Papua. Cari dana selenggarakan Seminar besar; itulah rananya. Dan kami Forum ada di belakang mndikung dengan doa Pnyelenggaraan Seminar yang berwibawa mmbhas soal2 Khidupan: agar UNCEN menjadi Kaayo, (bhs hubula) menara yg jaga agar Papua Tanah Damai.

Keempat, saat memperhatikan TNI POLRI yang turum ke kampus kmarin hdapi ” gelang bndera bintang kejora” di mana mata dan pikiran dari TNI POLRI yang sama: saat klompok Ràdikal Islam kibarkan bndera Islam di pinggir Danau Sentani bbrapa waktu lalu. Di mana otak, mata & pIkiran TNI PoLRI yg kmarin turun ke Kampus Uncen itu saat Jafar umat thalib sedang bangun ķekuatan di Koya dlam semangat bikin Papua jadi krusuhàn Ambon ke dua atau Poso kedua.

Di mana otak dan mata TNI POLRI lihat HTI yg sdang bikin basis di Merauke utk ubah Pàncasila dengan paham agama. di mana mreka2 itu? Memang Papua modern ini pènuh dengan keanehan karena dihuni: Gereja2, Agama2, Kerukunan/ Pagauyuban2, Prguruan Tinggi, Sekolah Teologi, Pemerintàh sipil & militer dan wartawan2 yang aneh2…….

REKTOR UNCEN & JAJARANNYA (3)

Kelima, kenyataan masyrakat di lapangan & ” gelang bntang kejora” di kàmpus uncen. Kmarin pagi saat ikuti siaran RRI dialog interaktif: terkait “BEM FIsip Uncen dan gerakannya kemarin ini” menarik bahwa hampir semua OAP yang bertanya menyadari masalahnya. Dari 5 orang yg bertanya (sbenarnya lebih); 3 orang diantaranya sama; orang Papua dalam NKRI sedang didiskiriminasi, dijadikan sebagai warga negara kelas dua; pndatang datang ke Papua menjadi penguasa dan kami distigma dan dijadikan target untuk operasi. Ada yang bilang “memang kami ini satu bangsa dengan bangsa indonesia tetapi sampai di Papua “dorang lihat kami dengan kotak2”. Ada yg bertanya “mengapa kami orang Papua diperlakukan begitu di tanah kami.

Dalam susana itu, kmi lihat ada orang Indonsia jalan dari rumah ke rumah paksa orang Papua kasih naik merah putih. Kmi melihat ada hubungan antara “paksaan untuk kasih naik merah putih” ini dengan “soal gelang bntang kejora & lagu2 mhiswa uncen kma7rin “kmi bukan merah putih kami bintang kejora”. Tidak mungkin tidak.

Keenam, separatisme (nasionalisme mnurut bangsa Papua) sebagai hasil kawin paksa (politik) Indon dàn Papua. Kami, FOrum ucapkan selamat kepada Rektor & jajarannya selamat berjuang “mmbantu negara dan pemerintah ini yang terus gunakan/ dibutakan oleh “politik lempar batu sembunyi tangan”. Pemerintah yg sering lempar semua dosa “separatisme” kepada orang Papua pada hal, secara ilmu sosial, separatisme Papua itu (mnurut kami) lahir dalam konteks sosial dan sejarah interaksi Papua dan Indonesia yg sdah berjalan bertahun-tahun. Negara/pmerintah harus periksa diri dan ambil tanggung jawab slesaikan msalah (nansionalisme) Papua. Separatisme (nasionalisme mnurut bngsa Papua) itu anak rumput yang lahir sbagai hasil “kawin paksa NKRI & Papua (lewat Pepera tahun 1969). NKRI harus bertanggung jawab atas lahirnya Nasionalisme Papua ini.

Kpada pk Rektor UNCEN & jajarannya, kami Forum mnyampaikzn Selamat berjuang mnegakkan otonomi Kampus.

Jayapura 15 agustus 2018.
Forum Kerja Oikumenis Gereja Papua.

Pdt. Dorman Wandikmbo/Pdt. Socrates Yoman/Pdt. Benny Giay

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Tagged with: , , ,
Ditulis dalam Berita, Suara Baptis, Suara Gereja, Suara Mahasiswa
6 comments on “Uncen dan Jajarannya Menyiasati  Gerakan Bem Fisip Uncen
  1. Nuten Wenda berkata:

    Terimakasi wendanak

    Suka

  2. Barney Lokbere berkata:

    Sangat benar Lihat Papua Secara Luas…. Jangan lihat dg ada di depan mata kita..

    Salam Pembebasan…

    Suka

  3. akia berkata:

    salut kepada ke tiga petinggi gereja,yang terus bersuara bagi umat yg yang sedang d tindas klonial

    Suka

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: