Bikin Heboh, Siswa SMK Negeri 3 Kotaraja Memakai Koteka Masuk Sekolah      


FB_IMG_1534154309579-1

Foto: Seorang Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Kotaraja,  Jayapura Papua.

MAJALAHWEKO, JAYAPURA– Seorang Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Kotaraja,  Jayapura, kelas X, Jurusan Teknik Mesin Bubuk, Andrianto Tekege sering disapa Andi  kembali menggunakan busana budaya (koteka) dan masuk sekolah, Senin (13/8). 

Sebelumnya beberapa mahasiswa baik dari Amik Umel Mandiri, Universitas Sains dan Teknologi Jayapura dan Mahasiswa Universitas Cendrawasih pernah menggunakan busana budaya (Koteka) dan  masuk kampus.   

Berikut ini , laporan kronologisnya.

Jam: 7.30

Dari tempat tinggalnya di Padang Bulan, Andrianto Tekege pergi ke sekolah dengan mengenakan busana daerah Papua (Koteka). Ia pergi menggunakan angkutan kota (Angkot) di temani seorang kakak, Iki Pekey. Di depan pintu pagar, seorang guru bidang studi agama heran dan bertanya kepada Andi, “Ada acara apakah, ko bisa pakai pakaian begini”. “Saya pakai begini karena saya ingat saya pu orang tua dulu begini dan sekrang saya mau sekolah”.

Guru tersebut kemudian mempersilahkan Andi dan kakaknya untuk ke dalam halaman sekolah.

Jam 7.59

Andi tiba bersama kakaknya di sekolah. Sampai di sekolah para guru heran dan bertanya-tanya.  Mereka bertanya kepada Andi, mengapa kamu memakai pakaian adat? “Kami tidak menyuruh anda memakai pakaian adat. Kenapa kamu pakai?” Andi hanya menjawab, ini pakaian saya. Seperti dahulu orang tua saya menggunakan koteka.

Di sekolah, teman-teman Andi begitu heran melihat Andi menggunakan koteka. Ada teman-teman lainnya yang datang menghampiri dan menyalami Andi. Teman-teman andi memuji Andi atas keberaniannya menggunakan busana daerah (koteka). Ini terutama dari teman-teman sesukunya (suku Mee) maupun dari suku lainnya di Papua.

Jam 08.00

Andi dipanggil oleh gurunya, masuk di kantor. Sesampai di kantor guru bertanya kepada Andi. “Datang ke sekolah ini untuk apa?” Andi menjawab “Saya mau masuk sekolah!”. Para guru heran karena tidak mengenal Andi. Sebabnya Andi adalah murid Baru di SMK Negeri 3 Jayapura.

Baca juga:

Guru bidang Kesiswaan juga bertanya tentang motif Andi datang ke sekolah mengenakan busana daerah (koteka) dan diantar oleh seorang kakak. Ketika ditanya, “maksudnya apa diantar oleh kaka?”. Kakak Andi menjelaskan bahwa ia diminta oleh Andi. Dan juga kakak Andi prihatin dengan budaya Papua, atribut daerah Papua (koteka). Kaka Andi juga menjelaskan bahwa Andi datang ke sini untuk bersekolah.

Para guru heran karena mereka tidak mengetahui bahwa Andi adalah salah murid di SMK Negeri 3 Jayapura. Sebab Andi adalah murid baru.

Guru Wali kelas Andi, ibu Frederika Emola, menanggapi perbuatan Andi. Ia sangat salud atas apa yang dilakukan oleh Andi. Ibu mengatakan ia mendukungnya, tetapi ada pengeculian bahwa moment-moment tertentu, seperti festival budaya. Tetapi kalau di Pendidikan Umum, ini Pendidikan Nasional. Sehingga kalau begini, guru dan siswa akan terganggu konsentrasi.

Guru Bidang Kesiswaan, pak Eddy Marumun bertanya kepada Andi, dari kabupaten mana? Andi menjawab, saya dari kabupaten Timika.

Kemudian Pa Eddy Marumun, guru bidang Kesiswaan menjelaskan secara panjang lebar.

“Kamu harus berhubungan dengan bupati toh, sekarang kan lewat otonomi khusus, Papua sebenarnya disekat-sekat. Teman-teman dari pegunungan di sana, dapat beasiswa dari bupatinya. Kamu datang ke sini kalau mau minta beasiswa dari kota Jayapura itu sudah salah. karena Jayapura urus orang-orang Port Numbay. Sekarang kan begitu, tidak ada lagi beasiswa yang kota mengurus semua seperti dulu lagi. Kan dana itu sudah diturunkan oleh pa Gubenur pada masing-masing bupatinya. Sekarang bagaimana mahasiswa membantu mengatakan ke bupati di sana, bagaimana mempersiapkan, jangan hanya membangun infrastruktur, tapi bagaimana ia membangun sumber daya manusia. Beasiswa sekarang tidak ada lagi. Kita di provinsi Papua, kita di kota Jayapura, wali kota siapkan beasiswa untuk anak-anak Port Numbay. Dari kabupaten lain, bupati lain yang siapkan. Ada anak yang sekolah di sini ia biayai.

Sekolah hanya menerima untuk memfasilitasi belajar  disini dan syarat belajar di sini harus patuh kepada aturan sekolah, dari disiplin rambut, pakaian dan sebagainya. Kita hargai budaya, tetapi kan ada momentnya. Kalau ada festival budaya. Ini kan sekolah umum, kita bukan mundur lagi, kita harus maju. Jadi kalau ko datang belajar dengan ini, ko tanyakan ke pa gubernur bagaimana, bisa kah tidak? Karena inikan kita sudah di kota.

Dan di Papua ini saya masuk sampai di pelosok sudah tidak ada lagi orang menggungkan pakaian adat (koteka). Tetapi kalau ada festival budaya pasti itu diakomodir. 17 Agustus Pawai pembangunan itu diakomodir. Tidak ada yang kita larang tetapi di sekolah ini, harus taat kepada aturan ini. Saya bisa panggil dari seluruh anak pegunungan. Ade nih ko tidak boleh lagi begini (pakai koteka ke sekolah).

Kita bisa pakai pada moment-moment tertentu, tetapi kalau ke sekolah pakai seragam sekolah. Karena kalau begini kan, masa Papua seperti begini, kita sudah maju. Di pegunungan semua daerah di pegang oleh putra daerah. berarti pemerintah pusat berharap kalau anak negeri memimpin negerinya berarti negeri itu akan jauh lebih maju.

Mungkin soal biaya, nanti dorang harus fasilitasi untuk jumpa dengan bupati. Adik kan dari Mimika, karena tanah mereka kan tanah emas Freeport, bagaimana kalau bupati jangan hanya bangun deaerah, tetapi paling penting adalah membangun sumber daya manusia.

Papua tidak boleh terpuruk dan itu didukung oleh presiden yang datang ke Papua berulang kali, hanya bapa Jokowi. Dia punya staf ahli pernah terjadi, dari kemerdekaan sampai sekarang ini baru dari pegunungan, anak pegunungan satu (Lenis Kogoya) dan ia cerdas.

Kita bukan tidak fasilitasi itu (budaya), saya lahir dan besar di tanah ini. Saya hanya kuliah kembali ke negeri leluhur saya di Maluku. Setelah kuliah saya kembali lagi ke sini (Papua). Kami sangat mencinta Papua.

Ade ini nanti bisa, nanti di moment-moment budaya kita fasilitasi, misalnya pameran, 17 Agustus, polisi juga tidak larang, ketika ibu-ibu atau nona-nona dari gunung sana memakai pakaian adat. Tetapi kalau aktivitas  di kantor di kuliah dan lain sebagainya kita wajib menggunakan pakaian yang orang lain bisa pakai. Pakai juga sekarang tidak mahal di Papua.”

Kakak andi menjelaskan lagi, bahwa tujuan ia hanya menemani Andi dan Andi sendiri datang untuk ikuti proses belajar mengajar. Dia datang bukan untuk foto “fashion show”, dan ia menghargai budaya leluhurnya. Hati nuraninya sendiri terpanggil untuk memakai pakaian adatnya (koteka). Sebab budaya Papua sudah diambang kepunahan.

Kata pa Eddy;

 “Ini kan sudah diakomodir dalam Otonomi Khusus, dan juga noken. Jadi lewat MRP, Gubernur ada perdanya. Terus menghargai budaya Papua. Cuma, sekarang tergantung dari etnis masing-masing, mau gunakan atau tidak. Di sekolah kita itu pada saat 17 Agustus jamannya pa Tommy Manno, itu kita kanaval mulai star dari Uncen mereka pakai budaya. Kita pu anak satu juga gunakan. Namanya Yance, dan dia kelas III, dia rutin gunakan dan tidak pernah malu. Kita guru juga tidak pernah marah. Kita kasih motivasi kepada Yance, kamu boleh pakai pakaian begini tapi pada khusus-khusus (moment-moment tertentu). Kita di sini tidak alergi terhadap budaya. Malah kita pernah buat saat 17 Agustus, anak-anak memakai pakaian daerah. Cuma beberapa kali kita buat itu anak-anak tidak respon. Mereka tidak mau. Contoh dari Jawa pakai kebaya harus make up yang stegah mati. Anak-anak Papua Cuma hanya beberapa orang yang mau, yang lain tidak mau.

Jadi ade bisa kali ini jang ko pakai begini (koteka), pa guru tidak larang, ko bisa langsung ke kantor MRP bisa minta apakah boleh anak-anak Papua di dalam satu minggu ini mereka pakai pakaian budaya. Supaya budaya kita tidak luntur. Terserah nanti MRP yang putuskan. Kalau MRP putuskan menjadi Perda itu berarti kita semua siap. Contoh macam Jogyakarta, pada saat hari Kamis, semua pegawai wajib memakai pakaian keraton. Pa Jokowi waktu wali kota Solo dia pakai itu. Laki-laki semua pakai itu, mereka juga pegang keris. Ibu-ibu juga pakai kebaya, ada Peraturan Daerahnya.

Sekarang kita di Papua sudah ada MRP, representasi dari Adat-Budaya Papua, nah silahkan sampaikan ke sana. Ade dong mulai dari MRP, bawa ke DPR kalau itu disetujui. Di Jogyakarta sudah buat, di DKI Jakarta sudah buat. Tidak salah kalau di Papua seperti ini. Tetapi kalau di Papua seperti ini etnis-etnis Papua saja yang menggunakan itu toh. Kita yang lain, kita hanya pakai noken.   

Jam 09.35

Setelah lama bercakap-cakap dengan para guru di kantor, Andi bersama kakaknya berpamitan.

Karena ada moment untuk mempersiapkan 17 Agustus, di sekolah tidak ada kegiatan belajar mengajar. Para siswa yang datang ke sekolah hanya bermain-main di sekitar halaman sekolah dan ada juga yang pulang.

Jam 10.17

Andi dan kakaknya memutuskan untuk pulang ke rumah.

Keterangan Tambahan:

  • Karena dalam moment mempersiapakan 17 Agustus maka tidak ada kegiatan belajar mengajar.
  • Andi berkomitmen untuk menggunakan busana daerah (Koteka) di hari-hari mendatang.
  • Andi tidak menerima seorang pun untuk berfoto bersama dia, terkecuali guru wali kelasnya.

(Alexander Gobai/kabarmapegaa.com)

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Ditulis dalam Aneh Dan Unik, Berita, Budaya, Pelajar, Pendidikan
One comment on “Bikin Heboh, Siswa SMK Negeri 3 Kotaraja Memakai Koteka Masuk Sekolah      
  1. […] “Ospek di Fakultasi Fisip Uncen itu, saya pikir wajar-wajar saja, karena selama ini pemerintah memberikan pendidikan sejarah yang dilakukan bangsa lain. Tentang kemerdekaaan Indonesia,” kata Ruben Magai kepada Wartawan di ruang kerjanya, Selasa (14/8/18).     […]

    Suka

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: