Dari Dulu ABRI Masuk Desa, Sekarang ABRI (TNI) Masuk Gereja-Gereka


____Oleh Dr. Socratez S.Yoman

kdh

TNI Mengajar di salah satu sekolah di Perbatasan RI-PNG. Mereka (TNI) membunuh anak-anak Papua secara mental.

1. Pendahuluan

Penulis perlu memberikan penjelasan supaya pihak Kodam XVII/Cenderawasih tidak heran dengan artikel penulis Minggu, 5 Agustus 2018: “AWAS! AKAR PERSOALAN BANGSA WEST PAPUA SEDANG DIHILANGKAN DENGAN BERBAGAI BENTUK SKENARIO PEMERINTAH KOLONIAL INDONESIA.” 

Ijinkan penulis mengutip tanggapan pihak Kodam XVII Cenderawasih.

“Shalom bapa gembala yang terkasih… saya menjadi heran, bapa sebagai gembala dan sebagai tokoh agama di Papua, tapi saat Kodam XVII/Cenderawasih melaksanakan kegiatan yang membangun Rohani anak anak Papua, hati bapa penuh dengan kecurigaan.

Pertanyaan bagi kita, apakah Kodam dengan fasilitas yang diberikan oleh negara, tidak boleh menggunakan fasilitas Kodam untuk kegiatan Rohani??

Kodam XVII/Cenderawasih, memfasilitasi kerinduan saudara-saudara, sahabat-sahabat Pangdam XVII/Cenderawasih dari Just For Christ (J4C) ministry untuk memberkati Papua. Merekalah yang menjadi trainer, pelatih dan pembicara bagi kegiatan pelatihan guru-guru sekolah minggu dan KKR bagi anak anak sekolah minggu. Apakah kami tidak boleh memfasilitasi mereka ?

Bapa sebagai gembala, saat Kodam XVII/Cen bagi bagi Alkitab bapa curiga…. Apakah salah kalau kami memberkati saudara saudara kami dengan membagi Alkitab? Bapak Pangdam XVII/Cen berusaha menghimpun berkat baik dari pribadi maupun dari sahabat sahabat beliau utk memberkati Papua apakah itu salah?

Injil Matius 28:19-20 menyatakan perintah yang lebih dikenal sebagai Amanat Agung. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Baca juga:

Sangat menarik untuk dipahami kalau dalam bahasa Yunani asli, satu-satunya perintah yang spesifik di Injil Matius 28:19-20 adalah “muridkanlah….” [6/8 07:48] Dr Socratez Yoman: 2. Matius 28:18-20

Pihak Kodam XVII Cenderawasih mengutip ayat Amanat Agung Yesus dalam meresponi artikel penulis judulnya telah disebutkan dalam pendahuluan tadi.

Wajarlah teman-teman Kodam XVII Cend tersinggung/heran dengan artikel penulis. Memang dalam artikel itu penulis mengajukan beberapa pertanyaan kunci dan pada nomor 2.7. mengajukan pertanyaan yang bertalian erat langsung dengan kegiatan Kodam XVII Cend.

Berikut ini kutipan pertanyaan penulis:

“Apakah Kodam XVII Cend ditugaskan Negara untuk bagi-bagi Alkitab di Gereja-gereja, selenggarakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dan menjadi Pelatih Guru Sekolah Minggu?”

Kembali pada Matius 28:18-20. Amanat Agung Yesus Kristus sudah dan sedang dan terus dilaksanakan oleh semua orang Kristen yang percaya Yesus dan termasuk pihak Kodam XVII Cenderawasih. Ini kewajiban semua orang yang percaya Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Di tempat dimana kita hadir, berada dan bekerja HARUS menjadi saksi bagi Kristus. Kebijakan pihak Kodam XVII Cend tidak salah. Penulis sebagai Gembala, hanya ingatkan kepada pihak TNI/Polri bahwa banyak tugas Kodam XVII dan Polda Papua terbengkelai & belum beres.

2.1. Amanat Agung Sudah dilaksanakan Gereja-gereja

Di West Papua dari Sorong-Merauke hampir 163 tahun sejak 5 Februari 1855, Gereja sudah melaksanakan Amanat Agung: ” pergilah, jadikanlah semua bangsa murid Yesus, baptislah, ajarlah…” sebelum Indonesia merampok, menduduki, menjajah & menindas bangsa West Papua.

Gereja-gereja sudah melaksanakan Amanat Agung itu dengan fasilitas terbatas dan tenaga terbatas & masuk ke daerah-daerah terpencil. Bahkan nyawa menjadi taruhan.

Contoh: Pilot Albert Lewis dari Christian And Mission Alliance (AMA) sebelum menerbangkan pesawat pertama kali ke Lembah Balim Wamena pada 20 April 1954, ia mengatakan:

“Saya tidak tahu harganya yang harus dibayar untuk memasuki Lembah Balim, tetapi saya bersedia membayar harga itu.” (Sejarah Gereja Katolik di Lembah Balim (2008: hal.21). [6/8 07:48] Dr Socratez Yoman: 2.2. Jiwa yang sudah dimenangkan dibantai dengan stigma OPM, Separatis dan Makar atas nama keamanan Nasional/NKRI

Amanat Agung Yesus yang dikutip tadi tidak berbicara pergilah OPM-kanlah, Separatis-kanlah, Makar-kanlah dan bantailah mereka atas nama keamanan nasional Indonesia. Amanat Agung Yesus tidak berbicara tangkaplah, culiklah, siksalah dan penjarakanlah atas nama NKRI.

Penulis mengatakan banyak tugas TNI/Polri yang terbengkelai dan belum beres, yaitu belum ada penertiban anggota yang membantai umat Tuhan di West Papua. Para penjahat dan kriminal itu belum pernah disentuh hukum. Mereka itu orang-orang penjahat dan kriminal yang mengakhiri hidup orang-orang asli West Papua yang punya negeri dan tanah ini.

Kapan pemerintah dan TNI/Polri bertanggungjawab untuk menangkap pelaku kejahatan kemamusiaan di West Papua?

Bagaimana janji presiden untuk menyelesaikan kasus Paniai pada 8 Desember 2014? Penembak yang menyebabkan 4 siswa meninggal dunia ialah anggota TNI. Mengapa tidak para kriminal dan penjahat berwatak Iblis ini tidak ditangkap dan diproses hukum dan dipecat demi rasa keadilan?

3. Apakah motivasi bagi kemuliaan Nama Yesus atau kemuliaan NKRI?

Kegiatan rohani dari pihak Kodam XVII Cend itu tergantung motivasi. Dulu ABRI masuk desa dengan tujuan pembinaan rakyat dan para toko untuk setia pada Indonesia, maaf, waktu itu belum ada istilah NKRI.

Kini, TNI masuk ke Gereja-gereja dengan membagi-bagi Alkitab, kegiatan KKR dan melatih guru-guru Sekolah Minggu.

Apakah kegiatan seperti ini untuk mengambil hati orang-orang Asli West Papua yang sudah tidak percaya kepada pemerintah Indonesia dan termasuk TNI/Polri karena kekejaman dan kekerasan dan kejahatan yang dilakukan selama 57 tahun?

Apakah ini reaksi kepanikan pemerintah, TNI/Polri dalam membendung perjuangan dan pergerakan West Papua Merdeka yang dimotori payung politik United Liberation Movement for West Papua (ULMWP)? Entahlah! [6/8 07:49] Dr Socratez Yoman: 4. Pengampunan

Tentu saja orang-orang Kristen akan bertanya-tanya. Apakah penulis sebagai seorang Gembala tidak ada rasa pengampunan dalam hati atas kesalahan dan kejahatan Negara, TNI/Polri?

Jawabannya ialah pengampunan yang diajarkan Yesus dari kayu salib itu ada proses yang jelas & terang. Kita jangan terjemahkan kata pengampunan itu dengan tanpa melihat konteks secara utuh dan benar.

Seringkali orang Kristen mengutip berkataan Yesus ini untuk membenarkan kejahatan mereka: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34).

Lebih jelas lagi kita lihat proses pengampunan salah satu dari dua penjahat yang disalibkan bersama Yesus di Golgota.

Seorang dari penjahat yang digantung disitu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkan diri-Mu dan kami!”

Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: “Tidaklah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”

Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Lukas 23:39-43).

Pesan Terang dan Jelas. Ada PENGAKUAN dan ada PENGAMPUNAN dan ada PERDAMAIAN.

5. Kesimpulan

Pemerintah Republik Indonesia segera menyelesaikan kasus-kasus kejahatan Negara yang menyebabkan pelanggaran berat HAM dan hilangnya hak hidup rakyat dan bangsa West Papua.

Kejahatan-kejahatan kemanusiaan tidak bisa & tidak dibenarkan ditutupi dengan kegiatan berkedok rohani.

Pemerintah Indonesia segera membuka diri untuk duduk bersama dengan ULMWP membicarakan masa depan dua bangsa yang sedang bertikai. Persoalan bangsa West Papua adalah berdimensi global & dimensi kemanusiaan.

Terima kasih.

Ita Wakhu Purom, Senin, 6 Agustus 2018;07:43AM.

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Ditulis dalam Artikel, Ham, Kriminal, Opini, Pelangaran Ham, Polhukham, Suara Baptis, Suara Gereja, Tanah Papua, TNI dan Polri, West Papua

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: