Aparat Keamanan (TNI/Polri) Sedang Menari-Nari & Berdansa-Dansa Diatas Darah, Air Mata, Tulang Belulang & Penderitaan Rakyat di West Papua


Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman

hut-baptis-ke-52-th-46

Sofyan Yoman tenggah, beserta rombongan ketika memberikan salam kepada Umat Baptis di acara penutupan Kongres di Yomaima Wamena. Kamis, 14/12/2017. Foto: Nuken/MW

1. Pendahuluan

Mengapa penulis menulis judul artikel ini? Para pembaca perlu mengetahui bahwa masa depan rakyat dan bangsa West Papua, benar-benar dihancurkan oleh militer dan polisi Indonesia dengan cara-cara biadab, kejam, berwatak kriminal, dan tidak manusiawi. 

Sintong Panjaitan dalam bukunya: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando, mengatakan: ” Kalau Pepera 1969 gagal, kegagalan itu terletak di pundak saya….:”(2009:169).

Lebih jauh ia mengatakan: “Seadainya kami (TNI) tidak melakukan operasi-operasi Tempur, Teritorial dan Wibawa sebelum dan sesudah Pepera 1969, pelaksanaan Pepera di Irian Barat dapat dimenangkan oleh kelompok Papua Merdeka.”

Duta Besar Gabon pada saat Sidang Umum PBB pada 1969 mempertanyakan pada pertanyaan nomor 6: “Mengapa tidak ada perwakilan rahasia, tetapi musyawarah terbuka yang dihadiri pemerintah dan militer?” (Sumber: United Nations Official Records: 1812th Plenary Meeting of the UN GA, agenda item 108, 20 November 1969, paragraf 11, hal.2).

Baca juga:

“Pada 14 Juli 1969, PEPERA dimulai dengan 175 Anggota Dewan Musyawarah untuk Merauke. Dalam kesempatan itu kelompok besar tentara Indonesia hadir…” (Sumber: Laporan Resmi PBB Annex 1, paragraf 189-200).

Surat pimpinan militer berbunyi: ” Mempergiatkan segala aktivitas di masing-masing bidang dengan mempergunakan semua kekuatan material dan personil yang organik maupun B/P-kan baik dari AD maupun dari lain angkatan. Berpegang teguh pada pedoman. Referendum di Irian Barat (IRBA) tahun 1969 HARUS DIMENANGKAN, HARUS DIMENANGKAN…”

(Sumber: Surat Telegram Resmi Kol. Inf.Soepomo, Komando Daerah Daerah Militer Tjenderawasih Nomor: TR-20/PS/PSAD/196, tertanggal 20-2-1967, berdasarkan Radiogram MEN/PANGAD No.: TR-228/1967 TBT tertanggal 7-2-1967, perihal: Menghadapi referendum di IRBA tahun 1969). 

[3/8 21:58] Dr Socratez Yoman: 2. Militer Indonesia Menghancurkan Hati Nurani dan Masa Depan Rakyat West Papua

Fakta sejarah membuktikan bahwa sesungguhnya mayoritas 95% rakyat West Papua memilih merdeka dan berdiri sebagai sebuah bangsa yang berdaulat penuh. Seperti diakui pemerintah Amerika Serikat.

“…bahwa 95% orang-orang Papua mendukung gerakan kemerdekaan Papua.”

(Sumber: Pertemuan Rahasia Duta Besar Amerika Serikat utk Indonesia dengan Anggota Tim PBB, Fernando Ortiz Sanz, pada Juni 1969: Summary of Jack W. Lydman’s report, July 18, 1969, in NAA).

Sedangkan Duta Besar RI, Sudjarwo Tjondronegoro mengakui: “Banyak orang Papua kemungkinan tidak setuju tinggal dengan Indonesia.”

(Sumber: UNGA Official Records MM.ex 1, paragraf 126).

Dr. Fernando Ortiz Sanz melaporkan kepada Sidang Umum PBB pada 1969:

“Mayoritas orang Papua menunjukkan berkeinginan untuk berpisah dengan Indonesia dan mendukung pikiran mendirikan Negara Papua Merdeka.” (Sumber: UN Doc. Annex I, A/7723, paragraph 243, p.47).

Piter Siradan mengakui: ” Kami orang Indonesia benar-benar menipu orang-orang Papua yang mau berkata benar pada waktu itu. Kami benar-benar menindas orang Papua. Kami benar-benar merugikan masa depan orang Papua. Kami benar-benar tidak menghargai hati nurani orang Papua yang mau merdeka. Saya mengetahui bahwa 100% orang Papua mau merdeka. Impian dan harapan mereka kami hancurkan. Pada waktu itu, saya mendapat hadiah Rp 7.000.000 (tujuh juta) dari pemerintah RI karena saya dianggap berhasil menipu orang Papua dan memenangkan Pepera 1969…” (Wawancara penulis: awal Desember 2009).

3. Kesimpulan

3.1. Aparat kemanan Republik Indonesia tidak pantas dan tidak layak dikatakan pengayom rakyat West Papua, tapi lebih layak dan pantas diakui sebagai aparat kolonial yang menduduki, menjajah dan menindas dan menghancurkan bangsa West Papua.

3.2. Rakyat dan bangsa West Papua tidak ada masa depan dalam wilayah pendudukan dan penjajahan Indonesia.

Penulis: Gembala Dr. Socratez S.Yoman.

Ita Wakhu Purom, Jumat, 3 Agustus 2018; 21:52pm

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Ditulis dalam Artikel, Internasional, Nasional, Opini, Orang Asli Papua, Pelangaran Ham, Polhukham, Referendum, Sejarah Papua, Suara Baptis, Suara Gereja, TNI dan Polri, West Papua

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Self Determination For West Papua

%d blogger menyukai ini: