Suara Kaum Tak Bersuara Bagi West Papua


Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman

Photo: Presiden Baptis Papua di panggung Utama pembukaan acara Kongres PGBP yang ke 18 di Wamena Papua. Senin, 11 Desember 2017.

1. Pendahuluan

Ketika ada dukungan moril dan doa dari berbagai pihak tentang apa yang bapa Gembala suarakan selama ini, penulis rindu mengabadikan penghormatan mereka dalam tulisan dengan judul: “Suara Kaum Tak Bersuara bagi West Papua.” 

Dalam buku karya Ibu Maire Leadbeater dengan judul: SEE NO EVIL: New Zealand’s betrayal of the people of West Papua (2018), pada bagian kesimpulan halaman 243 foto bapa Gembala mendapat tempat dengan topik: “Voice of the Voiceless for West Papua: A talk by Socratez Yoman, West Papuan Pastor, Author and Human Rights Defender, Friday 20th May 6:30PM FALE FASIFIKA UNIVERSITY OF AUCKLAND ( 2015, Miriama Arnold and Oceania Interrupted.”

Dalam mengkomentari foto ini, ada seorang teman cendikiawan, ilmuwan dan juga peduli dan pejuang perdamaian dunia dan juga West Papua berkomentar.

“Saya tidak sangka foto itu bisa dimunculkan dalam buku ini. Inilah the voice of voiceless. Tuhan lindungi.”

Ada pula komentar dari salah satu intelektual, cendikiawan dan ilmuwan muda terkenal komentar.

“Andai saja MRP bisa bersuara lebin lantang atau sama seperti suara Bapa Gembala Socratez Yoman, maka hari ini kami angkat topi buat MRP. Kalau MRP masih fokus untuk jadi petugas pemadam kebakaran saja, mending bubar diri sj. Lembaga bentukan republik, yang memberikan gaji, dan makan gaji uang negara, mau bicara apa? Lebih baik mundur dan disepakati tutup MRP saja” (George Saa, Sabtu, 28 Juli 2018).

Seorang sahabat diplomat Indonesia yang sangat faham situasi kekerasan dan pelanggaran HAM di West Papua berkomentar.

“Karena Bapa bicara Kebenaran. Bapak pejuang Politik tapi Bapa punya background nilai2 agama yg kuat…Bapa tidak bicara kebohongan”

Tulisan-tulisan Bapa membangun institutional memory. Tanpa ada institutional memory orang-orang tidak akan pernah bisa memperbaiki kesalahan Karena mereka akan begitu mudah melupakan sejarah.”

Bapa Gembala memilih hanya tiga komentar dari ratusan sahabat yang berkomemtar karena tidak cukup ruang.

2. I Only Speak The Truth

Bapa Gembala sebagai seorang sahabat umat Tuhan dan sahabat manusia yang tertindas, hanya berbicara kebebaran. Bapa Gembala sudah melihat kenyataan dan belajar keadaan umat Tuhan di West Papua sangat buruk dan mendengar suara mereka yang meminta tolong.

Keyakinan bapa Gembala, Gereja tidak boleh membisu dan diam, apalagi lari dari realitas umat Tuhan yang diduduki dan dijajah kolonial seperti yang sedang dialami umat Tuhan di West Papua.

Gereja harus hadir dalam dunia realitas. Gereja tidak boleh berada dibalik mimbar dan menghibur diri dengan ayat-ayat Alkitab. Karena Injil kabar gembira dan kabar sukacita tentang kelahiran Yesus, kematian Yesus (Roma 1:1-3) bukan khotbah. Injil bukan teori. Injil bukan bermeditasi. Injil itu nyata, yaitu Yesus lahir dalam dunia nyata, Yesus berkorban dan mati tersalib di Kalvari dalam dunia nyata, Yesus bangkit dan hidup dari kubur adalah karya nyata. Ini HANYA untuk MANUSIA sebagai gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26).

Gembala tidak boleh berada di wilayah abu-abu & menonton dan tidak boleh acuh tak acuh ketika umat Tuhan di West Papua dibantai seperti hewan atas nama keamanan nasional & NKRI.

Gembala memegang otoritas ilahi. Gembala memegang Kunci Kerajaan Sorga. Gembala bertanggungjawab kepada TUHAN. Gembala memegang mandat Tuhan Yesus Kristus, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yohanes 10:11). Gembala ialah sahabat mereka yang tertindas.

Uskup Dom Carlos Filipe Ximenes Belo menyatakan imannya: “…dalam realita kalau sudah menyangkut pribadi manusia, walaupun dengan alasan keamanan nasional, Gereja akan memihak pada person karena pribadi manusia harganya lebih tinggi daripada keamanan negara dan kepentingan nasional.” (Sumber: Voice of the Voiceless: Siagian & Tukan, 1997:hal.127).

Ita Wakhu Purom, 29 Juli 2018;20:00

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Ditulis dalam Berita, Suara Baptis, Suara Gereja, West Papua

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: