Papua Butuh Banyak Gembala Yang Memihak Umat Tertindas


Oleh: Benny Lagowan

vnuf

Dari kanan: Benny giay (Presiden Kingmi). Dr. Ndumma Socratez Sofyan Yoman (Presiden Baptis) dan. Dorman Wandikbo. (Presiden Gidi) (Foto: majalahweko.com)

MAJALAHWEKO.COM – Pada hakikatnya keselamatan hidup itu hanya dua yakni di dunia yang nyata (bumi) ini dan diakhirat yang masih misteri. Itu jelas dan sangat jelas. Dalam agama manapun tentu kita selalu berharap hidup yang terbaik di kedua siklus kehidupn itu- meskipun untuk konteks hidup didunia akhirat itu msh abstrak.

Untuk menuju dunia akhirat yang baik dan tenang, bahagia dan seterusnya- yang misterius itu kita sebagai umat beriman selalu diperdegarkan dengan firman-firman yang jadi syarat utama menuju ke sana oleh para imam, pendeta, ustad dan seterusnya.

Harapnnya melalui aksi nyata firman-firman yang berisikan nilai-nilai hidup baik, kita dapat memperoleh kelayakan untuk masuk kedalam dunia akhirat yang serba bahagia yaitu kerajaan surgawi. Tetapi, yang selalu jadi masalah adalah sikap dan perilaku yang lebih mementingkan akhirat tadi dan melupakn kehidupn di dunia sekitar kita yang sangat nyata sedang terjadi pembunhan, diskriminasi, penangkapan, penganiayaan, pembantaian dan seterusnya yang sangat melanggar firman Tuhan.

Walaupun demikian kebanyakan para pastor-pastor, pendeta-pendeta sebaga gembala terus meneruskan memilih diam dan hanya bersaksi bagi keselamatn abstrak tentang surgawi. Dimana terus membuat umat kemabukan fiksi surgawi dan mengabaikan pelanggaran firman Tuhan yang terus terjadi dalam realitas hidup beriman saat ini.

Di Papua banyak gembala umat demikian yang terus menjebakan umatnya dalam kesadaran abstrak yang palsu untuk terus berdoa sembari melihat sesamanya ditndas sehari-hari melalui sistem pembngunan yang pro migran, perampokan SDA yang massif, pembungkaman demokrasi, pembunuhan atas nama keamanan nasional dan seterus yang menempatkn nilai seorang manusia dan kemanusiaan sebagai hukum yang utama dn terutama tentang cinta kasih kepada sesama berada pada level kebinatangan.

Para pendeta dan pastor ini lebih memilih bersuara dari puncak kenyamanan singgasana mimbar yang jauh dari realitas penindasn sembari terus beretorika menghipnotis umat stiap minggu dgn firman tanpa aksi konkret. Umat pun trus dibuat candu atas liturgi dn perayaan rutinan gerejawi yang belum tentu menntukan dirinya dan komunitas konservatisnya masuk surgawi abstrak tadi. Memang mengharapkan solidaritas keumatan nasrani Papua yang telah dicampur dengan sel-sel kelompok migran NKRI harga mati tidak akan smudah corak gereja yang homogen dan benar-benar memahami teologi dan pembebasan umat manusia seperti GIDI, BAPTIS  dan juga KINGMI.

Sebab dalam jaringan dan struktur anatomi agama dan gereja yang universal dan pluralis seperti Katolik, GKI & Islam serta lain-lain mengharapkan dukungn mutlak untuk berpihak pada suara kaum minoritas tertindas itu tidak terlalu penting pasti minim. Selain sebagai umat yang minoritas, kekuatiran perpecahan dan disintegrasi bangsa dari kelompk migran mayoritas yang berakar dalam struktur sel dan jaringn anatomis gereja-gereja ini tidak akan bisa dipengaruhi. Makanya tidak heran jika gereja-gereja yang umatnya heterogen ini bersikap lebih kompromistis dan konservatif. Apalagi dalam gereja katolik yang sbagian gembalanya lebih banyak migran dan memiliki hargon “100 NKRI, 100% Katolik”. Ini tentu jadi sngta kontradiktif dalam mendukung hak-hak orang Papua yang lebih besar atas penindasn, janganksn soal HAM untuk kemerdekaan saja pasti sulit.

Tetapi, sebagaimana hukum Tuhan yang utama dan terutama dan atas aturan hidup kristiani yang menjadikan 10 perintah Allah sebagai dasar dan pedoman dalam hidup beriman, upaya mengapliksikn  10 firman Tuhan ini dalam hidup sehari-hari mesti diutamkan. Sebab jika hukum Tuhan itu tidak dilaksankan maka apalah artinya, iman tanpa prbuatan juga pada hakikatnya mati. Oleh karenanya menjsdi gembala dsn umat ysng peka dan realistis itu sebenarnya sangat penting dan sangat ideal. Apalagi dalam konteks Papua. Jika suara kebenaran dan keadaan di Papua ini telah lama disalibkn tanpa adanya periode kebangkitan, maka pimpinan gereja, gembala-gembala dan umat Tuhan mestinya harus bersatu padu bersuara dan bertindak memperjuangknnya.

Gembala umat tertindas Socratez Yoman, Benny Giay dan Dorman Wandikbo telah lama memperjuangkannya. Mereka tlah lama hadir dn bersuara pd ruang2 realitas penderitaan yang konkret hari ini di Papua. Mereka tidak terjebak dalam fiksi surgawi yg sgt jauh. Mrk berangkat dr akan kmana manusia2 tak berslah yg mati ditgn penindas sebelum wktunya di panggil Tuhan selama ini? Mengapa hak mereka untuk hidup lebih lama dalam dunia yang nyata ini harus dibatasi bukan oleh Tuhan sendiri, melainkan oleh tangan sesama manusia yang berwatak penindas? Padahal Tuhan Allah sendiri tak pernah berniat untuk menghabisi mereka.

Oleh karena itu, demi suatu kehidupan yang benar seturut dengan kehendak ajaran Tuhan sudah saatnya, para gembala-gembala di Papua meninggalkan jubah konservatisme dan keluar dari zona nyamn untuk menuntut keadilan dan keberanan yang masih terus disalibkn di bawa kaki Yesus itu. Itulah realitas yang musti terus diperjuangkan dikhotbahkan dan diwujudkan.

Abepura, 27 Juli 2018

Penulis: Benny Lagowan

Editor: Admin

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Ditulis dalam Artikel, Diskusi, Gereja, Opini, Orang Asli Papua, Organisasi, Papua Kedepan, Suara Gereja, Tanah Papua

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: