Nilai Hidup Orang Lani (Bakar Batu) Yang Menjelma Dalam Realitas Politik Praktis


Oleh Dr. Socratez S.Yoman

hut-baptis-ke-52-th-46

Sofyan Yoman tenggah, beserta rombongan ketika memberikan salam kepada Umat Baptis di acara penutupan Kongres di Yomaima Wamena. Kamis, 14/12/2017. Foto: Nuken/MW

  1. Pendahuluan

Dulu, dalam hidup rakyat West Papua yang bermukim di pegunungan/pedalaman ada nilai hidup turun-temurun. Nilai apa itu? Ada kerjasama dan saling mendukung satu sama lain dalam benyak hal. Dari banyak nilai itu, penulis mengambil satu contoh nilai keberadaban suku Lani. 

Biasanya ada satu keluarga atau sekelompok orang mengundang saudara-saudaranya datang untuk membantu membuat honai, pagar dan membuat kebun baru. Singkat kata, meminta tenaga atau tangan untuk membantu.

Tugas pengundang ialah menyediakan makanan dengan cara masak dengan pakai batu yang dipanaskan dengan api (bakar batu). Para undangan yang sudah memberikan sumbaga tenaga dan tangan itu diberikan makan. Itu selalu hadir hampir ratusan bahkan ribuan orang. Walaupun banyak makanan itu tidak pernah habis bahkan kelebihan.

Dalam kehidupan dan peradaban ini dibangun dan dilestarikan dan dijaga turun-temurun. Karena dalam acara masak bakar batu secara besar-besaran seperti ini, ibu-ibu janda dan anak-anak yatim piatu dan orang-orang yang berkekurangan diberikan makanan. Ada nilai kemanusiaan, nilai kasih dan nilai kebersamaan.

  1. Bakar Batu dan Kampanye politik Nilai yang dulu ada dalam kalangan orang Lani ini tidak hilang. Nilai ini masih dipelihara sampai saat ini, bahkan dalam kampanye politik praktis pun nilai ini dilestarikan.

Apapun penilaian orang lain, itu hak setiap orang untuk melihat dan menilai tentang bakar batu dan kampanye politik. Saya melihat beberapa nilai positif:

2.1. Para politisi menghendaki orang-orang yg datang dukung mereka dalam kampanye tidak pulang ke rumah dengan kelaparan. Para politisi menghormati mereka dengan memberikan mereka makanan. Artinya, ini bukan berarti suara rakyat digadaikan dengan makanan.

2. 2. Umpanya uang yang dibelanjakan untuk membeli babi, sayur, ubi, kayu bakar adalah milik rakyat maka uang itu beredar dalam [11:52 AM, 6/23/2018] President Baptist: masyarakat. Ini para politisi cerdas dan berhikmat. Uang hampir ratusan juta bahkan milyaran itu diterima rakyat. Ada upaya pemberdayaan ekonomi rakyat walaupun itu misi politik sesaat.

2.3. Tidak ada makan siang tanpa bayar (today is no free lunch). Tidak ada perbedaan kampanye dalam gedung dengan membeli nasi bungkus dan kue dan sejenisnya. Bedanya ialah cara, bentuk dan tempatnya.

2.4. Pendekatan seperti ini menurut saya, para politisi ini tahu nilai hidup, tahu nilai budaya mereka, tidak mau membuat sesamanya susah/pulang dengan lapar, tahu berterima kasih kepada orang-orang yang menghormati undangan mereka.

2.5. Hanya, saya pesan kepada para politisi yang berkompetisi jangan memaksa rakyat untuk mengikuti kemauan kalian, biarkan rakyat melihat, mendengar dan menilai dan memutuskan pilihan mereka dengan hati nurani dan hak politik mereka.

Akhirnya, Doa dan harapan bapak Gembala supaya Pilkada dan Pilgub Papua pada 27 Juni 2018 berjalan dengan damai.

Waa…kinaonak.

Ita Wakhu Purom, Sabtu, 23 Juni 2018; 11:23

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Ditulis dalam Artikel, Budaya, Gaya Hidup, Polhukham, Politik, Tanah Papua

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: