West Papua: Menulis Untuk Keabadian Masa Depan Anak dan Cucu Bangsa West Papua


Oleh: Dr. Socratez Sofyan Yoman

IMG_9557-1

Photo: Presiden Baptis Papua

Menulis;

MAJALAWEKO, – Sukmatari, kau sudah melangkah. Jangan mundur. Tulis sebanyak-banyaknya tentang bangsamu. Bangsa tertindas yang selama berabad-abad membisu. Tulis, umumkan, jangan sampai tak melakukan perlawanan. Ingat gadis Jepara itu, ingat Mutatuli, ingat Hatta, ingat Suwardi Suryoningrat, Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, semua menggoncangkan sendi-sendi pemerintah kolonial dengan tulisan. Ya, dengan TULISAN! 

Menulis dan menulis sangat berbeda, ada orang menulis untuk klangenan, ada orang menulis untuk memperjuangkan sesuatu. Dan semua patriot yang kusebut, mereka menulis untuk memperjuangkan asas. Menulis hanya sebuah cara! Tulis Sukma.Tulis semua yang kau ketahui mengenai bangsamu. Tulis semua gejolak perasaanmu tentang bumi sekitarmu. Karena dengan menulis kau belajar bicara. …” (Mayon Sutrisno: Arus Pusaran Sukarno, Roman Zaman Pergerakan: hal. 201).

  1. Pendahuluan

Menulis adalah suatu keabadian. Tulisan itu tetap hidup selamanya di tengah rakyat dan bangsa West Papua. Pada suatu saat sipenulis tiada, orang asing akan mengatakan, penulis sudah tiada. Sebaliknya, penduduk Asli West Papua mengatakan, si penulis selalu hidup bersama, ada bersama kita, ia tidak pernah pergi, ia tidak jauh dari kita.

Contoh hari ini, walaupun sang Mambesak, Arnold C.Ap ditembak mati oleh Kopassus pada 1984 (Kopasshanda waktu itu), Mambesak masih hidup dan tetap dalam hidup bangsa West Papua.

Menulis adalah pendekatan rasional dan terhormat untuk melawan tirani kekuasaan Indonesia atas bangsa West Papua. Untaian kata demi kata dan kalimat demi kalimat hanya untuk membela kehormatan dan dignity rakyat West Papua dan menentang ketidakadilan dan kejahatan pemerintah Indonesia yang menggurita hampir 59 tahun sejak 1961.

Pengalaman perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah Belanda menjadi inspirasi dan pelajaran sangat berharga hari ini bagi bangsa West Papua.

“Sukmatari, kau sudah melangkah. Jangan mundur. Tulis sebanyak-banyaknya tentang bangsamu. Bangsa tertindas yang selama berabad-abad membisu. Tulis, umumkan, jangan sampai tak melakukan perlawanan. Ingat gadis Jepara itu, ingat Mutatuli, ingat Hatta, ingat Suwardi Suryoningrat, Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, semua menggoncangkan sendi-sendi pemerintah kolonial dengan tulisan. Ya, dengan TULISAN! Menulis dan menulis sangat berbeda, ada orang menulis untuk klangenan, ada orang menulis untuk memperjuangkan sesuatu. Dan semua patriot yang kusebut, mereka menulis untuk memperjuangkan asas. Menulis hanya sebuah cara! Tulis Sukma.Tulis semua yang kau ketahui mengenai bangsamu. Tulis semua gejolak perasaanmu tentang bumi sekitarmu. Karena dengan menulis kau belajar bicara. …” (Mayon Sutrisno: Arus Pusaran Sukarno, Roman Zaman Pergerakan: hal. 201).
[6:34 PM, 7/1/2018] President Baptist: 2. Pak Socratez, mengapa melawan Indonesia?

Saya pernah ditanyakan pertanyaan ini hampir 10 tahun lalu. Saya bertanya kepada teman yang bertanya. Siapa yang melawan Indonesia? Dia tidak menjawab dan saya sampaikan, “saya melawan ketidakadilan, kejahatan penguasa atas nama keamanan nasional yang merendahkan martabat bangsa saya. Saya tidak suka, martabat kami direndahkan oleh bangsa asing yang datang merampok dan menjajah tanah dan hidup kami. Kami dulu bangsa yang merdeka bukan bangsa budak sebelum Indonesia menjadi koloni baru atas kami.”

Apakah kedaulatan negara Indonesia harus dipelihara dengan menumpahkan darah rakyat? Apakah keamanan nasional harus dipertahakan dengan membuat rakyat menderita dengan moncong senjata? Itu saya pikir, perilaku biadab dan manusia-manusia tidak punya nurani.

  1. Mengapa pak Socratez berjuang Papua Merdeka?

Saya juga pernah ditanya pertanyaan ini. Saya pikir, saya tidak pernah berjuang West Papua Merdeka. Yang mendorong West Papua merdeka adalah penguasa Indonesia. Perilaku mereka yang kejam/jahat itu melahirkan ideologi dan seperatisme. West Papua Merdeka tidak turun dari langit. Ia dihadirkan oleh penguasa Indonesia lalim ini.

Kemudian, saya tidak berjuang West Papua Merdeka, tapi yang berjuang adalah umat Tuhan, rakyat West Papua. Saya seorang Gembala dan sahabat mereka yang tertindas/ teraniaya. Saya hanya suara mereka yang tak bersuara, membisu & takut. Saya mendengar tangisan mereka yang minta tolong. Saya harus hidup bersama mereka. Karena saya berasal dari mereka. Saya tahu denjutan dan jeritan hati mereka. Saya tetap bersuara untuk mereka supaya suara mereka didengar.

  1. Apakah pak Socratez tidak takut TNI/Polri?

Ini pertanyaan lain pernah ditanyakan. Saya mempunyai keyakinan anggota TNI/Polri bukan hantu yang perlu ditakuti. Mereka manusia sama seperti saya. Saya menjalankan tugas sebagai seorang Gembala. Mereka juga laksanakan tugas mereka. Hanya saya tidak setuju kejahatan atas nama negara.

ITW, 1642018.

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Ditulis dalam Artikel, Opini, Suara Baptis, Suara Gereja, West Papua

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: