Refleksi Paskah 2018: Didepan Mata Para Gembala dan Pendeta, Umat Tuhan Dibuat Tidak Punya Martabat dan Nilai


“Perayaan Ibadah Paskah di Tengah-Tengah Gong Kepunahan, Depopulaai, Diakriminaai dan Marjinalisasi Rakyat dan Bangsa West Papua”

Oleh: Presiden Baptis

hut Baptis ke 52 th (10)

Photo: Dr. Dumma Socratez Sofyan Yoman. (Presiden Baptis). (Dok: MW/Nuken)

MAJALAHWEKO, JAYAPURA – Setiap Paskah dari tahun ke tahun, Gereja-gereja di West Papua dari mimbar suci, para gembala dan pendeta selalu berkhotbah ayat-ayat dan dokma-dokma bagaimana serdadu Romawi menangkap Yesus, menyiksa, menghina, dipaksa memikul salib dan Ia disalibkan, kedua tangan-Nya dan kedua kakinya dipaku, kepala-Nya dimahkotai duri dan lambung-Nya ditikam. 

Para gembala ini berbicara peristiwa 2.000 tahun yang lalu. Khotbah-khotbah Paskah itu selalu kena tembok gereja, kena dinding gereja, dihalau oleh kipas angin dan tenggelam dalam AC (Air Condition) yang tertempel di dinding gereja bahkan hilang dibawah kursi-kursi yang berjejer dalam gereja.

Bahasa-bahasa yang indah dan doa-doa yang indah dan lagu-lagu yang merdu yang menghibur diri mereka dan orang-orang yang memenuhi kursi-kursi gedung ibadah itu tidak mengerti dan tidak berdaya untuk menghalangi lajunya kepunahan, depopulasi, diskriminasi dan marjinalisasi rakyat dan bangsa West Papua.

“…dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya (luka2nya) kita menjadi sembuh…” (Yesaya 53:5).

Tombak Serdadu Romawi tertembus lambung Yesus. Kekejamnya serdadu-serdadu Romawi yang menyalibkan Yesus tampak dalam proses penangkapan Yesus sampai pada saat di salib. Para imam dan pemuka agama semua bungkam. Karena para imam, para pemimpin agama telah berkolaborasi dengan para serdadu Romawi.

Para pemilik jubah, jas dan dasi (para gembala dan pendeta) tidak rela menjadi seperti orang Kirene, Simon untuk memikul Salib Yesus, mengantarkan Yesus menuju bukit Golgota/Kalvari. Para gembala & pendeta tidak mau menanggung resiko & takut & menghindar & berlindung dibalik ayat-ayat firman Tuhan, dokma dan dibalik mimbar, dibalik jubah, jas & dasi.

Mengapa para pemilik jubah, jas dan dasi membisu dan tidak berani atas perilaku serdadu-serdadu Indonesia yang menangkap, menyiksa, membantai dengan kejam umat Tuhan di West Papua atas nama keamanan dan kepentingan nasional?

Mengapa para gembala dan pendeta tidak bersuara untuk menghentikan kekejaman dan kejahatan negara yang menimpa rakyat dan bangsa West Papua?

Para serdadu Indonesia terus memaksa memikul beban salib umat Tuhan menuju kuburan-kuburan di Tanah West Papua.

Di Tanah ini, umat Tuhan terus berguguran tanpa dasar dan tanpa alasan. Pemilik negeri ini disalibkan terus oleh serdadu Indonesia dengan stigma anggota OPM. Ahli waris Tanah ini dipaku kaki dan tangan mereka oleh serdadu Indonesia dengan mitos pembuat makar. Umat Tuhan yang ditebus dengan darah Yesus yang kudus & penderitaan di kayu salib itu masih disalibkan dan dibantai oleh serdadu Indonesia dengan mitos anggota seperatis.

Apakah PASKAH itu hanya biasa-biasa saja? Apakah kematian Yesus itu tidak berdampak untuk umat Tuhan yang di West Papua yang sedang berada pada tingkatan gong kepunahan, depopulasi, diskriminasi dan marjinalisasi?

Peringatan keras bagi para pemimpin Gereja, gembala dan pendeta, JANGAN Anda menghibur diri dengan ayat-ayat Firman Tuhan dan dokma-dokma tanpa mendaratkan arti penderitaan, kematian Yesus dan pengharapan dalam kehidupan nyata yang sedang bergejolak di West Papua.

Di depan mata gereja, di depan mata para pemimpin gereja, di depan mata para gembala dan pendeta umat Tuhan dibuat tidak punya martabat dan nilai. Apakah kematian Yesus di kayu salib juga bukan untuk orang asli West Papua?

Hadirkan Salib Yesus itu dalam dunia nyata dengan bertanya kepada serdadu dan pemerintah Indonesia, mengapa engkau masih menyalibkan Yesus, Arnold Clemens Ap, Thomas Wanggai, Theys Hiyo Eluay, dimana Aristoles Masoka disalibkan, Kelly Kwalik, Yustinus Morip, 4 siswa di Paniai pada 8/12/ 2014? Yesus masih menderita.

Penulis: adalah Presiden Baptis. Oleh: Bapak Dr. Socratez S. Yoman). IWP, 29 Maret 2018.

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Ditulis dalam Artikel, Suara Baptis, Suara Gereja, West Papua
One comment on “Refleksi Paskah 2018: Didepan Mata Para Gembala dan Pendeta, Umat Tuhan Dibuat Tidak Punya Martabat dan Nilai
  1. […] Refleksi Paskah 2018: Didepan Mata Para Gembala dan Pendeta, Umat Tuhan Dibuat Tidak Punya Martabat … […]

    Suka

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: