Yoman: Internasional Dan Indonesia Sudah Mengetahui Bahwa West Papua Pasti Merdeka Lepas Dari Indonesia


Presiden Baptis ketika Bersalaman dengan mama di Wamena. Foto Nuken/Admin MW.

“PENGUASA INDONESIA DAN INTERNASIONAL SUDAH MENGETAHUI WEST PAPUA PASTI MERDEKA LEPAS DARI REPUBLIK INDONESIA”

Oleh: Dr. Ndumma Socratez S.Yoman. (Presiden Baptis).

1. Pendahuluan

Para pembaca akan bertanya-tanya setelah membaca tulisan saya sebelumnya dengan tema: “West Papua Bukan Bagian Dari Wilayah Republik Indonesia” (05/01/2018) & : “Bangsa Melanesia Di West Papua Pasti Merdeka Lepas Dari Republik Indonesia” (08/01/2018).

Tema hari ini: “Penguasa Indonesia & Internasional Sudah Mengetahui West Papua Pasti Merdeka Lepas Dari Republik Indonesia”. 

Setelah para pembaca membaca ini, apakah Anda tidak setuju dengan saya? Apakah Anda marah dengan saya? Atas dasar apa Anda marah dengan saya?

Kalau yang marah dan tidak setuju dengan saya adalah orang pendatang, Melayu Indonesia, terutama Anda anggota TNI/ Polri, Anda adalah manusia yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu.

2. Kami Tuan, Kami Raja dan Pemilik Sah Tanah Melanesia, West Papua

Dengan murah dan gampang saja stigmakan kami adalah orang-orang miskin. Orang-orang belum maju, terbelakang, tertinggal dan terisolir dan label-label lain yang merendahkan martabat dan harga diri kami.

Kami bukan orang miskin. Kami punya tanah dan kampung yang jelas dari turun-temurun. Kami ada garis keturunan yang jelas dari turun-temurun. Kami tidak pernah kawin dengan saudara semarga. Kami punya gunung yang jelas, sungai yang jelas.

Kami adalah bangsa yang mempunyai teknologi dan peradaban tinggi dalam bidang pertanian, perkebunan, & mengarungi lautan dan pulau dari ribuan tahun lalu.

Kami ada pendidikan. Kami ada pemerintahan. Kami ada pemimpin (Ap Ndumma, Ap Nagawan, Ap Nggain, Ap Nggok, Ap Wakangger, Ap Endage Mbogur). Kami ada kebudayaan. Kami ada bahasa. Kami ada sejarah. Kami ada peraturan & undang-undang lisan. Kami ada nilai demokrasi. Kami ada nilai kekeluargaan. Kami ada nilai perdamaian. Kami ada nilai etika & sopan santun (Baca: Kita Meminum Air Dari Sumur Kita Sendiri: Yoman, 2000).

3. Nilai & Budaya Asing Yang Dipaksakan

Saya datang dari keluarga dan masyarakat yang mempunyai tatanan kehidupan dan peradaban tinggi. Saya datang ke dunia asing dan nilai-nilai yang baru. Saya masuk sekolah yang dibangun Indonesia.

Dalam Sekolah ini semua yang ada dalam pikiran, hati dan hidup saya itu disapu bersih, dikeluarkan dan diisi dengan nilai-nilai budaya asing dari penjajah Indonesia. Mereka menghancurkan identitas dan harga diri saya.

Mereka membawa saya dalam ruang penjara mereka. Mereka menulis dan mencat dalam pikiran dan hati saya sesuka hati mereka. Mereka memasukkan sejarah mereka. Mereka mencat dengan ideologi mereka dalam pikiran saya.

Contohnya: Dalam sekolah ini, saya diajarkan nama pahlawan asing seperti Diponegoro, Imam Bonjol, Hassanudin, Budi Utomo, Pattimura,Yos Sudarso, dan lain-lain.

Dalam otak saya mereka isi Kerajaan Sriwijaya, Majapahit. Mereka juga isi dengan Pancasila. Mereka isi dengan Sumpah Pemuda. Otak saya j diisi dengan lagu Indonesia raya. Mereka menyuruh saya angkat muka untuk hormat merah-putih. Mereka suruh ikut tada panas mata hari untuk ikut upacara tanggal 17 Agustus 1945, katanya hari kemerdekaan Indonesia.

4. Manusia Dibantai Seperti Binatang Buruan

Setelah otak & pikiran kami diisi dengan nilai-nilai penjajah, kami dipaksa menjadi orang Indonesia dengan harus mengakui kami orang Indonesia, kami harus hormat Pancasila, kami harus hormat UUD 1945, kami harus akui bendera Merah Putih. Yang terbaru adalah patung kreasi TNI yaitu harus setia pada Patung Firaun Moderen yaitu NKRI Harga Mati.

Kolonial Indonesia juga sudah ciptakan label-label sebagai surat Ijin untuk membantai penduduk bangsa West Papua, yaitu ABRI ciptakan Organisasi Papua Merdeka (OPM), Gerakan Pengacau Keamanan (GPK), Gerakan Pengacau Liar (GPL), Separatis, Makar, Gerakan Kriminal Sipil Bersenjata (GKSP), Gerakan Separatis Kriminal Bersenjata (GSKB). Siapa sebenarnya kriminal/pengacau liar di West Papua? Ya, TNI/Polrilah!

5. Apa Kata Prof Dr. Franz Magnis-Suseno

Untuk melegitimasi dan mengiyakan TNI/Polri adalah kriminal dan pengacau liar di West Papua, perlu saya kutip pendapat seorang tokoh.

“Ada kesan bahwa orang-orang Papua mendapat perlakuan seakan-akan mereka belum diakui sebagai manusia. Kita teringat pembunuhan keji terhadap Theys Eluay dalam mobil yang ditawarkan kepadanya untuk pulang dari sebuah resepsi Kopassus” (hal.255).

“Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi medi asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia” (hal. 255).

” Genosida? Tentu tidak seperti genosida di 1992 di Rwanda. Namun kalau orang-orang asli Papua makin banyak yang meninggal karena AIDS, TBC, dan penyakit-penyakit lain, kalau mereka terus ketinggalan, miskin, dan tersingkir, kalau mereka mengalami nasib sama seperti orang Indian di Amerika Utara atau Aborigines di Australia, kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab sebagai bangsa biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam” (hal.257). (Sumber: Magniz: Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme: Bunga Rampai Etika Politik Aktual, 2015).

Magniz tegaskan bahwa Indonesia akan dinilai Internasional “sebagai bangsa biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua”. Saya tambahkan, “bangsa penipu ulung, perampok, pencuri, kriminal dan pengacau liar”.

6. Indonesia gagal memenangkan hati rakyat dan bangsa West Papua

Pemerintah Indonesia dengan ambisi menduduki, menjajah dan merampok, menyingkirkan/musnahkan bangsa West Papua, ia lalai memenangkan hati rakyat dan West Papua untuk menjadi bagian dari wilayah Indonesia.

Indonesia sibuk membangun/ memperkuat West Papua untuk tetap dalam wilayah Indonesia dengan tetesan darah, cucuran air mata, penderitaan, tulang belulang bangsa pemilik negeri ini. Apakah darah, air mata, penderitaan dan tulang belulang umat Tuhan tidak berdosa itu merestui/ mendukung Indonesia di tanah West Papua?
________

ITP, 09/01/2018.

Penulis: Dr. Ndumma Socratez S.Yoman. (Presiden Baptis).

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Ditulis dalam Indonesia, Informasi, Internasional, Papua Merdeka, Suara Baptis, Suara Gereja, West Papua

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: