5 Hal Ini Membuktikan Perempuan Papua Mulai Menyadari Identitasnya


fb_img_1475156220468

Perempuan Papua. (Ilst Foto)

MAJALAHWEKO – Pada pembuka artikel ini, Dihai harus mengakui bahwa ada beberapa hal membuat saya ingin terus menulis dan membahas seputar perempuan Papua. Perempuan yang melahirkan saya. Perempuan yang membuat saya seperti apa hari ini. Penulisan saya bukan hanya mengangkat jati diri perempuan Papua tetapi dalam beberapa artikel saya juga mempertanyakan tingkah laku perempuan Papua yang kian hari kian jauh dari sifat keibuan mama Papua.

Tahun lalu saya menulis sebuah artikel yang tidak lain isinya mempertanyakan peran dan kehadiran mereka dalam mengangkat jati diri orang Papua. Artikel itu berjudul “Surat Untuk Perempuan Papua”. Ternyata, artikel itu dibaca oleh 14312 orang. Puluhan komentar pun berdatangan. Tapi uniknya, diantara mereka sendiri ada yang setuju tetapi ada juga yang menolak tulisan itu. Di kolom komentar blog, dikomentari oleh 11 orang dan di kolom komentar Disqus berjumlah 25 komentar. Berikut saya cantumkan salah satu komentarnya.

Terima Kasih untuk artikel yang berwawasan dan membuka pikiran bagi orang-orang Papua, terlebih khusus perempuan Papua. Sebagai perempuan Papua, saya sangat setuju dengan pendapat saudara diatas. Perempuan Papua harus lebih percaya diri dengan identitasnya. Jangan mau diubah akibat tuntutan jaman dan gaya anak muda sekarang. Budaya orang Papua harus di pertahankan juga. Sekarang trendnya itu selfie atau foto2 ditempat2 yang unik di Papua, ini trend yang sangat bagus untuk mempromosikan Papua secara National dan International, tapi pasti selalu ada dampak negatifnya nanti (Terlalu banyak kunjungan orang2 yang tidak menghargai lingkungan= kerusakan lingkungan). Jadi boleh saja perempuan Papua mempercantik diri dengan alat2 kecantikan yang sudah disediakan, tetapi kalo sampai kita mengubah apa yang sudah alami diciptakan Tuhan, pasti ada dampak negatifnya nanti. Jadi Kalau ingin berbuat sesuatu, selalu ingat konsekuensinya. Cuma bilang saja. Bebas to berpendapat. Terima kasih lagi.  -Anonim-

Terlepas dari pro dan kontranya mereka, bagi saya tidak masalah karena proses itulah yang akan membuat kita menemukan sebuah solusi yang ideal. Ingat, bukan solusi akhir.

Pada tahun ini, saya kembali menulis sebuah artikel tentang perempuan Papua: 5 Poin Kelebihan Perempuan Papua yang Wajib Anda Ketahui. Artikel inipun disambut positif oleh perempuan Papua. Selain kedua artikel di atas, saya juga pernah menulis sebuah cerpen untuk mengangkat identitas perempuan Papua: Suara Untuk Perempuan Papua. dan artikel yang sedang anda baca ini merupakan artikel keempat saya tulis seputar perempuan Papua.

Tulisan ini sebenarnya berangkat dari rasa bangga yang mendalam ketika melihat perempuan Papua mulai tampil di publik dengan Fashion Papua yang sangat elok untuk dipandang. Mereka juga berani untuk menyuarakan dengan tegas segala ketidak adilan di Papua yang terus menjadi pentas seni yang indah untuk ditonton penguasa. Berawal dari rasa bangga itulah, selanjutnya membuat  saya menyediakan menu khusus untuk membahas seputar perempuan Papua di blog serba ngawur ini.

Dari perjelasan panjang di atas, kali ini Dihai ingin berbagi 5 hal yang membuat Dihai bangga dan kagum melihat perempuan Papua. Terlebih lagi, bangga karena mereka mulai menyadari siapa mereka dan berani mengekspresikan diri mereka dengan apa yang mereka punya. Mengapa demikian? Ya karena Dihai merasa kritikan saya dalam artikel pertama mulai dijawab oleh mereka alias mulai terkabul. Dari langkah inilah, saya sebagai laki-laki Papua sekaligus sebagai anak yang terlahir dari rahim mama Papua bangga melihat ekspresi mereka, bukan hanya bangga tetapi juga kagum. Terlebih lagi, tanah Papua turut bangga dengan langkah yang mereka mulai tempuh.

Pertama- Budaya itu butuh inovasi dan perubahan. Saya tidak pandai dalam memahami kebudayaan tetapi sadar atau tidak, facebook, televisi, mobil, motor, komputer dan lain-lain itu, merupakan hasil inovasi kebudayaan. Artinya, IPTEK itupun hasil dari kebudayaan [1]. Di poin ini, perempuan Papua mulai berani mengekspresikan diri mereka. Artinya, mereka mulai tampil di publik dengan Fashion kebudayaan yang mereka miliki. Bagi saya, mereka bukan hanya cantik tetapi menarik dan natural. Mengapa demikian?

Di poin semacam ini, kita melihat bahwa Perempuan Papua itu bukan cantik karena di make up tetapi cantik secara natural. Selain itu, tampilannya mengisyaratkan berjuta makna. Noken dan alam sebagai simbol identitasnya. Sementara, ukiran dan kepolosannya menyimbolkan manusia yang tapil otentik

Tapi apa ya otentik itu? Mmmm, Otentik berarti, kita menjadi diri kita sendiri.“Otentik” berarti asli. Manusia otentik adalah manusia yang menghayati dan menunjukkan diri sesuai dengan keasliannya, dengan kepribadian yang sebenarnya.[2]

Dewasa ini jika kita bandingkan antara Asia dan Eropa maka di Eropa orang muliu rindu dengan hal-hal yang natural. Sementara di Asia orang mulai gila dengan berbagai alat make Up. Hasilnya tidak salah kalau Asia menjadi pasar terbesar bagi negara pemodal karena di Asia mungkin produk komestik yang harganya jutaan rupiah dipandang modern. Ya tidak salah, di lain sisi kita baru disentuh oleh peradaban kebudayan manusia modern. Jadi, jangan kaget jika kita terkadang menjadi konsumtif dan materialis.

Ingat eee, pertanyataan ini bukan berarti orang Eropa anti komestik atau tidak suka dengan komestik tetapi lebih pada paradikma berpikir. Contoh lain misalnya, kita di Indonesia masih berbicara ditarap peri kemanusiaan, mereka sudah ditarap peri kebinatangan. Heheheh, lumayan jauh to kawan? Atau bagai mana menurutmu?

Saking rindu akan hal-hal bersifat alami, belum lama ini menjadi tren di dunia barat adalah ecosexual atau bercinta dengan alam. Ya, secara sederhana, mereka ini menempatkan diri mereka sebagai kelompok orang yang mencintai alam. Bumi adalah sebenar-benarnya kekasih yang harus dijaga keberadaannya. Masih tidak percaya? Coba tanya om google dengan kata kunci “ecosexual”

Pada poin ini saya ingin mengaris bawahi suatu pernyataan untuk mendukung penampilan kalian. Supaya anda tidak salah memahami makna dari kata cantik, yaitu anda harus tahu cantik itu relatif. Anda mungkin menonton pemilihan Miss Universe atau seperti dua tahun lalu seperti Cita cita yang mengaku ia cantik dan mengatakan Nggak kayak Papua, kan? Atau iklan-iklan komestik yang terus mengidentikkan cantik itu harus Putih. Semua itu mungkin membuat anda minder dan tidak percaya diri untuk tampil kepublik dengan penampilan natural yang saat ini anda geluti.

Tetapi tenang, pada porsinya itu tetaplah relatif. Hal ini sebagaimana penjelasan Socrates kepada muridnya tentang cinta dengan perumpamaan ladang gandum/hutan. Artinya, ketika ko lihat seseorang cantik, ko akan tahu. Ada yang lebih cantik dari apa yang ko lihat hari ini dan seterusnya. Pertanyaannya, mengapa bisa begitu? Pertanyaan yang bagus hehehehe, berikut penjelasannya.

Secara paling mendasar, pengetahuan manusia dapat kita bagi kedalam tiga kelompok besar. Logika, etika dan estetika. Logika mengacu pada rana ilmu pengetahuan (sains), etika merupakan rana sikap. Ajaran tentang baik dan buruk. Sedangkan estetika merupakan rana seni. Cantik atau jelek, indah atau jelek, cinta, dan musik berada pada rana seni yang abstrak dan seni itu bermain dirana rasa. Lalu di dalam rasa tidak dapat kita menemukan kebenaran yang bersifat objektif sekaligus universal karena sifat relatifnya. Semoga jawaban ini memuaskan. Kalau tidak, mari kita cari jawabannya bersama.

Akhir kata selamat berkaya. Besok kalian akan dikenal secara luas. Terlebih, Papua akan dikenal melalui kalian. Luar biasa, za bangga lihat kam!

Kedua- Perempuan Papua mulai menyadari penindasan dan semua dinamika kekerasan di Papua. Mereka mulai berani untuk menyatakan sikap perlawanan mereka. Jangan heran besok mereka akan berdiri di garis depan memimpin proses perlawanan ini.

Ini adalah salah satu ungkapan  mama Papua, Ciska Abugau kepada tabloidjubi.com, Senin (29/0/2016). Sungguh sedih. Percuma saja kami mama-mama Papua ini melahirkan anak-anak kami. Karena kami punya anak-anak ini terus dibunuh oleh aparat.[3]

Di belahan dunia manapun, ketika ada kekerasan akan timbul perlawanan. Ini adalah hukum sebab akibat. Perlawanan itu bukan hanya dari kaum lelaki tetapi juga perempuan. Misalnya saja dalam perjuangan Indonesia Cut Nyak Dhien dan lain-lain.

Mengapa mereka melawan? Di Papua jangankan masyarakat sipil, anak sekolah saja di tembak mati (jika bersalah) tanpa proses hukum yang jelas. Jangankan proses hukum, kami protes ketika kami benar pun kami di cap sebagai separatis. (Sumber: dihaimona.com)

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Ditulis dalam Artikel, Perempuan Papua

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: