Membunuh Atas Nama KKB/OPM, Tidak Selesaikan Masalah Papua


samuel-660x330

Samuel Tabuni/Istimewa

JAYAPURA, MAJALAHWEKO – Kontak senjata antara tim gabungan Polres Yapen dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang menewaskan salah satu pimpinan KKB, Maikel Marani, Senin (27/3) menjadi perhatian dari berbagai kalangan di Papua.

Salah satu anak Papua, Samuel Tabuni menyesalkan tindakan tersebut. Dan menyampaikan bahwa tindakan membunuh atas nama KKB, Tidak akan pernah menyelesaikan masalah membangun Papua, tetapi hanya menambah dendam kesumat yang berujung pada kehancuran bangsa.

“Saya merenungkan, kalau perisitiwa di Yapen terjadi pada keluarga kita, dibunuh/mati di tempat. Apalagi membunuh atas nama KKB, dengan barang bukti bintang kejora, senjata dan amunisi serta sejumlah uang, hal ini tidak akan pernah selesaikan masalah membangun Papua,” katanya kepada media, Selasa (28/3) siang.

“Cara penyelesain persoalan dengan membunuh atas nama KKB, OPM, atau apapun itu namanya di Papua adalah menghancurkan keluarga kita sendiri, menghancurkan pembangunan yang kita sudah kontrak dengan Pemerintah Pusat itu sendiri, dan menambah kesumat yang berujung pada kehancuran bangsa kita sendiri (NKRI),” sambungnya.

Untuk itu ia meminta seluruh masyarakat di Papua untuk memfasilitasi mereka yang tidak menikmati pembangunan dalam kerangka Otsus, mereka adalah korban pembangunan dari pemerinta pusat  sejak 1969 (proses integrasi).

“Mereka adalah korban akibat dan bentuk kegagalan dari semua pemimpin di tanah ini seperti pimpinan gereja, adat, pimpinan pemerintah, dan pimpinan TNI/Polri  sebagai perwakilan dan perpanjangan tangan dari Pemerintah Pusat. Tugas dan tanggungjawab kita dan cara penanganannya berdasarkan kekeluargaan, kemanusiaan dan cinta kasih sebagai sesama anak bangsa,” ungkapnya.

Bahkan Samuel yang juga Ketua DPD Partai Nasdem Kabupaten Nduga mengajak masyarakat untuk meyakinkan Jakarta (pemerintah pusat), Amerika, Australia, Inggris dan semua bangsa di Dunia bahwa Papua mampu menyeselaikan semua persoalan di Papua dengan standar-standard operational global.

“Kita mampu berdiri diatas kaki kita sendiri dengan damai, respect terhadap sesama, saling mendukung, saling memaafkan tanpa korupsi (tidak mengambil yang bukan hak) dan konflik.

Berhentilah saling curiga, saling menjatuhkan, apalagi membuat rencana jahat untuk membunuh sesama OAP. Musuh kita bersama adalah kebodohan, ketertinggalan, sakit penyakit, konflik (perang saudara,suku), Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN), keluargaisme antara gunungisme dan pantaiisme,” pungkasnya. [Levin]/wartaplus.com

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Ditulis dalam Ham, Hukum, Peristiwa, Polhukham, Tanah Papua

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: