AMP Dan FRI West Papua Serukan: Tutup Freeport, Menentukan Nasib Sendiri Sebagai Solusi


17362387_1334930149925036_3865377137346564897_n

Front rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-West Papua) dan Aliansi Mahasiswa Papua melakukan aksi di Bundaran Universitas Gadja Madha (UGM) Yogyakarta.Senin, 20/03/2017. (Foto: Bima/KM)

MAJALAHWEKO, JOGYAKARTA – Kurang lebih 60-an aktivis peduli kemanusiaan yang tergabung dalam Front rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-West Papua) dan Aliansi Mahasiswa Papua melakukan aksi di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Mereka menuntut PT Freeport Indonesia ditutup dan Nasib sendiri bagi Rakyat Papua adalah Solusi Bagi rakyat Papua. Massa AMP dan Front FRI-West Papua berjumlah puluhan orang itu membentangkan spanduk dan menyampaikan sejumlah tuntutan, Senin, (20/03/2017).

Lima ribuan orang Papau dibunuh oleh Militer di Papau. Genosida sistematis terus di bangun oleh Pemerintah indonesia di bawa kaki tangan Militerisme.Freeport masuk ke Papua tidak melibatkan orang papua yang juga sebagai pemilik tanahnya.

“Indonesia hadir di tanah Papua atas dasar kepetingan politik tanpa memperhatikan nasib orang Papua sementara kekayaan alam dikuras, manusianya dibunuh. Untuk itu soluusi terbaik untuk rakyat papua adalah menentukan nasib sendiri bagi orng Papua,” tegas anggota FRI-West Papua dalam orasinya yang ditangkap oleh media ini dilapangan, Senin, (20/03/2017) bertempat bundaran UGM.

“Freport segera ditutup, dari berikan hak kebebesan (merdeka, dan lepas dari NKRI) bagi Rakyat Papua,” tegasnya.

Pernyataan yang sama, disampaikan oleh Sekretaris Mikael Kudiai. Dirinya menuntut Indonesia dan Internasional, terutama negara-negara yang terlibat ambil peran dalam kepentingan yang terlibt dalam pengambilam kekayaan alam di Papua (Freeport).

“Kami, orang Papua sadar bahwa Indonesia saat ini sedang bungkan ruang demokrasi, Rakyat Papua di bunuh, belum lagi bagi rakyat Papua yang berada diisekitar kawasan Freeport (suku amungme dan Kamoro). Rakyat Papua terus meninggal karena dibunuh atas nama NKRI harga mati,” ujar Mikael dalam Orasinya.

Menurutnya, Indonesia saat ini berada dalam tekanan Militerisme. Indonesia di bawa kaki tangan Militer, kembali melalkukan bisnis besar-besaran di tanah Papua.” pada tahun 1967 PT.Frerport hadir Papua. Kehadiran Freeport tidak melibatkan orang Papua, padahal orang papua adalah pemilik tanahnya.

“Jangankan orang Papua pada umumnya, masyarakat Papua yang berada di area Freeport, seperti suku Amungme dan Kamoro saja dibunuh oleh militer,” tegasnya.

Kemudian, tulis dalam penyataan aksi kali ini, kehadiran PT. Freeport Indonesia di tanah Papua merupakan malapetaka bagi Rakyat Papua. Kehadiran Freeport sejalan dengan kehadiran pelanggaran terhadap hak kemanusiaan dan lingkungan di tanah Papua. Ambisi Freeport yang ingin keluar dari keterpurukannya setelah disepak keluar dari Kuba setelah Revolusi 1959, menimbulkan persoalan baru di tanah Papua. Kehadiran Freeport yang secara langsung melibatkan Pemerintahan Indonesia dan militer di bawah komando Soeharto yang identik dengan kekerasan melahirkan masifnya kekereasan terhadap kemanusiaan di Papua.

“Berbagai kekerasan dan operasi dilakukan demi penguasaan terhadap wilayah Papua demi kenyamanan pengamanan terhadap proses penanaman modal. Secara umum di Papua kekuasaan militer berkembang setelah Pengumandangan TRIKORA 19 Desember 1961, oleh Ir. Soekarno di Alun-Alun Utara Kota Yogyakarta. Akhirnya dilakukan beberapa gelombang Operasi Militer di Papua Barat dengan satuan militer yang diturunkan untuk operasi lewat udara dalam fase infiltrasi, seperti; Operasi Banten Kedaton, Operasi Garuda, Operasi Serigala, Operasi Kancil, Operasi Naga, Operasi Rajawali, Operasi Lumbung, Operasi Jatayu. Operasi lewat laut adalah Operasi Show of Rorce, Operasi Cakra, dan Operasi Lumba-lumba. Sedangkan, pada fase eksploitasi dilakukan Operasi Jayawijaya dan Operasi Khusus [Opsus]. Melalui operasi ini wilayah Papua Barat diduduki dan dapat dipastikan banyak orang Papua yang telah dibantai pada waktu itu,” hal ini dipaparkan dalam selearan pernyataa sikap yang di terima media ini di lapangan.

http://www.kabarmapegaa.com/…/

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Ditulis dalam AMP, Berita, Ham, Mahasiswa Papua, Polhukham, PT Freeport, Referendum

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: