“Lawan” Bukan Berarti “Musuh”, Bangkitkan Lawan yang Terjatuh


Oleh: Oleh: Neson Elabi

16806814_10208464079548711_6579088518163112969_n

Foto Korban Konflik Pilkada 2017 di Intan Jaya Papua

MAJALAHWEKO, MALANG – Pemilukada serentak tahun 2017 telah terselenggara dengan baik, sekitar 101 kota-kabupaten atau provinsi di Indonesia merayakan pesta demokrasi terbesar yang kedua. Rakyat telah memilih langsung pemimpin mereka yang akan memimpin mereka selama lima tahun ke depan.

Namun dibalik pesta demokrasi terbesar di Indonesia ini, tak luput pula menimbulkan berbagai macam konflik, dari konflik masuknya agama dalam politik seperti “memaksa” mencampur air dengan minyak hingga melayangnya nyawa manusia, seperti yang terjadi di Intan Jaya-Papua yang menewaskan 3 Orang dan puluhan lainnya luka serta hancurnya fasilitas umum lainnya.

Konflik horizontal yang terjadi khususnya di Papua bahkan dapat menimbulkan tumbuhnya tunas-tunas kebencian dan ego di masyarakat. Bagi tim sukses, masyarakata pendudukang atau pasangan calon yang menang dalam pemilukada akan berpesta atas kemenangannyadan mengucilkan masyarakat pendukung yang mengalami kekalahan dalam pemilukada. Jika yang menang tetap ego dan yang kalah tetap berkecil hati, maka disinilah peluang tumbuhnya tunas permusuhan yang berkepanjangan antar golongan, Fam, atau suku.

Rasa ego dan saling tidak terima antara yang menang dan yang kalah dalam pemilukada inilah salah satu faktor yang akan mempengaruhi jalannya proses pembangunan di Papua. Karena yang menang menjadi kepala daerah akan memberikan jabatan-jabatan penting dalam struktur pemerintahan kepada mereka yang pernah mendukungnya untuk memperkuat kekuasaannnya, sedangkan bagi yang menjadi lawan dalam pemilukada atau yang kalah tidak mendapat kedudukan di pemerintahan bahkan diturunkan atau diganti dari jabatannya, sehingga sering terjadinya penempatan posisi di pemerintahan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan. Inilah yang membuat rendahnya profesionalitas kerja yang menghambat pembangunan di Papua. Kondisi-kondisi seperti inilah yang umum terjadi di Papua dalam peralihan kekuasaan dalam pemerintahan pasca Pemilukada.

Disaat sepeti inilah dibutuhkan keterbukaan dan kerendahan hati seorang Pemimpin. Yang menang dalam pemilukada tidak ego dan yang kalah tidak kecil hati.

Saat yang menang membangkitkan dan merangkul lawan terjatuh untuk membangun, disaat inilah kekuatan persatuan untuk membangun Papua terwujud.

Alangkah cepat Indahnya, Jika semua yang menang dalam pemilukada dan menjadi kepala daerah di Papua merangkul dan membankitkan lawan yang kalah dalam pesta demokrasi, disinilah kunci untuk mencabut benih-benih konflik Horizontal yang tumbuh akibat Pemilukada Serentak, Karena dalam sistem pilitik yang benar “Lawan” Bukanlah berarti “Musuh” (www.naworlano.red).

Opini Oleh: Neson Elabi (Mahasiswa Papua di Malang

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Ditulis dalam Opini, Politik

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: