Kekerasan Terhadap Perempuan Papua Barat


kekerasan-perempuan-papua

Kekerasan Terhadap Perempuan Papua Barat. Foto cerminpapua.com

“Hidup Perempuan Papua  Barat! Hidup mama Papua Barat’’ 

MAJALAHWEKO – “Hidup Perempuan Papua  Barat! Hidup mama Papua Barat’’ Inilah dua  kalimat yang sering teriakan dalam yel-yel atau orasi aksi demontrasi yang sering dilakukan oleh mahasiswa Papua Barat di Tanah se-Jawa Bali, Sulawawesi maupun Papua Barat.

Kedua yel-yel ini seakan menjadi perhatian  yang penting dalam sejumlah yel-yel  yang lainnya sering di teriakan oleh mahasiswa Papua Barat, baik oleh kaum laki- laki maupun perempuan sendiri. Terselipnya yel-yel yang berbau “Perempuan’’ adalah aksi demotrasi ini menjadi indikator adanya perkembangan perhatian terhadap Perempuan  Papua Barat  tidak begitu di perhatikan dalam hal apa saja, entah  dalam kanca, budaya, ekonomi, politik kesehatan maupun bidang lainnya.

Sekilas memotret kebelakang, persoalan perempuan, terutama perempuan Papua Barat, tergambar secara jelas sebuah kerumitan yang multikomples dan multidimensional. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa perempuan Papua Barat tidak perna lepas dari berbagai persolan yang menggeluti setiap langkah hidupnya. Persoalan hidup itu sendiri berasal dari nilai-nilai budaya tertentu bukan nilai budaya seluruhnya –yang menempatkan perempuan sebagai  manusia kelas dua, dengan kaum laki-laki sebagai manusia kelas satu. Selain penderitaan  karena faktor budaya, yang tidak kalah menarik bahkan lebih kejamnya  adalah arena faktor lainnya, seperti kepentingan ekonomi, politik pembangunan, agama, dan kepentingan lainya yang menjurus pada munculnya penderitaan perempuan dalam bentuk kekerassan militer, kesehatan, ekonomi, Pembangunan, agama dan lainnya. Akumulasi  antara berbaagai nilai budaya dan kepentingan ini menjerumuskan perempuan sebagai korban penderitaan yang seakan-akan tiada akhirnya.

Melihat kenyataan adanya nilai-nilai  yang membuat membuat perempuan menderita dan adanya berbagi kepentingan diatas Tanah Papua  Barat, maka tampa merasa ragu sedikitpun, sekaligus  tampa mengurangi dan meremekan penderitaan  di wilaya lainya,  dapat dikatakan bahwa perempuan papua barat adalah korban penjajahan.

Penjajahan dalam arti ini bukan sekedar kekuasan eksploitatif dan hegomonis fihat luar Papua Barat, misalnya kepentingan Negara Indonesia dan Negara lainya, tetapi juga penjajaan dalam monteks kejahatan budaya yang menjadikan perempuan segabai korban.  Artinya, perempuan Papua Barat menjadi mulitikompleks dan multimensional.

Lalu, pertanyaanya adalah bagaimana potret penderitaan perempuan Papua Barat? Sikap dan tindakan apa  yang di ambil oleh perempuan Papua Barat-tentunya dengan  kaum laki-laki yang peduli dengan nasib perempuan Papua Barat dalam menghadapi penderitan atas dirinya? Barangkali jawabanya dari pertanyan  pertama telah berusaha dijawab oleh penulis, namun saya ingin menjawab  kedua pertanyan dengan memotret perjalan perempuan Papua Barat, sekaligus memotret perjalanan perempuan Papua Barat, terutama yang terkai dengan penderitaan  dan kebangkitan perempuan Papua Barat, sekaligus memotret dari mana sedang kemana ‘’bola emas’’ Perjungan perempuaan Papua Barat sedang gulirkan.

Korban Penjajaan

Tidak salah jika di katakana bahwa Perempuan Papua Barat  telah, sedang dan tidak diakhiri  akan mengeluti penderitaan dalam hidupnya. Atau dengan kata lain korban perempuan Papua barat telah, sedang dan akan terus  berjaktuhan ironisnya,  wajah kekerasan terhadap prempuan papua barat seakan-akan menjadi sebuah sebuah pemandangan lazim’’ yang indah,  yang hanya enak di tontong tampa merasa gelih sedikitpun oleh berbagai sifat yang  menontongnya,  baik sebagai individu, kelompok, organisasi, bangsa,  maupun Negara. Artinya, penderitaan papua barat tidak menarik perasahan kasihan bagi siapapun, mala berbagi sifat  menjadi pelaku langsung dan tidak langsung, bagi penderitaan perempuan papua barat.

Jika pelaku kekerasaan terhadap  perempuan papua barat di lihat kebelakang dari saat sekarang ini, maka ada dua kategori pelaku kejahataan terhadapa perempuan papua barat, yang dapat dapat dikategorikan dalam priodik waktu,. Pertama, pelaku kejahatan terhadap perempuan  papua barat pra-pengaruh luar masuk ke papua barat, yaitu indetik dengan kekerasann budaya yang berland=sung hingga sekarang. Kedua, pelaku kejahatan terhadap perempuan papua barat pasca-pengahru luar masuk ke  papua barat, terutama sesaat dan setelah papua barat dianeksasi oleh klonial Indonesia lewat proses penentuan pendapat rakyat (PEPERA) yang cacat hukum dan moral.

Kekerasan Ekonomi

Di bidang ekonomi, perempuan papua barat mengahadapi sebua situasi yang sulit. Bukan semata karena susah menghadapi himpitan ekonomi, tetapi lebih-lebih karena dua situasi yang  bertolak belakang.

Di satu sisi, secara budaya perempuan papua barat  telah menjadi tulang punggung  ekonomi keluarga.

Kekerasan kesehatan

Di bidang kesehatan, kekerasan tehadap perempuan Papua Barat telah, sedang dan-jika tidak di akhiri-akan terus berlangsung pada sistematis. Walaupun di satu sisi Pemerintah klonial Indonesia, terutama lewat terpangan tangannya  di Papua Barat berusaha membuat berbagai kebijakan mengenai peningkatan  mutu kesehatan, tetapi disi lain perlu di sadari bahwa banyak penyakit di Papua Barat di tularkan  secara sistematis  dengan motif politik. Artinya, pemerintah daderah di Papua Barat menggenai peningkatan  derajat kesehatan orang Papua Parat sama saja dengan membunu niat pemerintah pusat atau cita-cita colonial. Mengapa demikian ?

Ada dua hal yang ,enjadi indikator dosa pemerintah klonial  bagi penularan penyakit terhadap orang papua barat. Pertama, kebijakan Negara dengan upaya genosida (pemebasmihat atnis malanesia secara sistematis oleh klonialme Indonesia). Kedua, pembiaran orang papua barat dalam bidang kesehatan. Dua hal yang saling melengkapi dan sistematis.

Kebijakan Negara Indonesia, yang cenderung saya sebut kebijakan penyakit berkaitan dengan berbagai kebijakan  kesehatan yang  membuat penyakit  oaring papua barat adalah program  keluarga berencana, HIV/AIDS, minuman keras, narkotika, obat-obat terlarang dan lainnya. Dari yang disebut ini hanya  program kelurga berencana  yang dilancarkan dan diterapkan  secara terselubung  dengan mngandalkan kekuatan  militer dan intelejen. Semunya mempunyai tujuan yang sama, yaitu kepentingan kebasmian etnis malanesia di papua barat.

Penerapan keluarga berencana di papua barat dilakukan secara membabi buta. Artinya, dalam prakteknya memakan banyak korban jiwa perempuan papua barat karena proses sosialisasi  dan prakteknya dilakukan secara  membabi buta. Kebanyakan pegunan alat kontrasepsi KB tidak sesuai dengan kondisi diagnosa kesehatan si pemakai, sehingga mengakibatkan banyak perempuan papua barat yang sakit, dan meningal dunia.

Perihal

"Bermimpi boleh saja. Tapi, jangan lupa untuk bangun dan kejar mimpi itu"

Ditulis dalam Artikel, Kekerasan, Opini, Perempuan Papua

Dilarang keras Komentar yang berbau SARA, Pornografi, Pelecehan dan Kekerasan. Orang Pintar Pasti Komentar Yang Berkualitas.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: